GlobalSiar.com – Data mengejutkan berasal dari Provinsi Lampung. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) mencatat 20.534 anak putus sekolah. Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) melakukan verifikasi resmi atas angka ini.
Paling Banyak di Tingkat SMP
Kepala Disdikbud Lampung, Thomas Amirico, memaparkan rincian data tersebut. SD menyumbang 5.081 anak putus sekolah. SMP mencatat angka tertinggi, yakni 10.531 siswa. Kemudian, 4.742 siswa lainnya putus sekolah di tingkat SMA. Artinya, anak usia remaja menjadi kelompok paling rentan.
Bukan Persoalan Infrastruktur
Masyarakat mungkin menduga minimnya gedung sekolah jadi penyebab. Namun, Thomas menepis anggapan itu. Kapasitas sekolah negeri dan swasta di Lampung masih sangat mencukupi. Bahkan, banyak sekolah swasta justru kesulitan mendapatkan murid.
Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?
Ekonomi dan Lingkungan Jadi Biang Kerok
Tim Disdikbud melakukan evaluasi lapangan. Mereka menemukan faktor nonteknis sebagai akar masalah. Kondisi ekonomi keluarga menjadi pemicu utama. Budaya setempat juga ikut berperan. Selain itu, kenakalan remaja dan pengaruh lingkungan sekitar memperparah situasi.
Thomas menjelaskan, anak-anak ini sebenarnya memiliki akses ke sekolah. Gedung-gedung tersedia, para guru siap mengajar. Namun, tekanan dari luar memaksa mereka berhenti sekolah.
Langkah Disdikbud Menekan Angka Putus Sekolah
Disdikbud Lampung tidak tinggal diam. Mereka kini menyusun strategi intervensi lintas sektor. Mereka melibatkan dinas sosial, tenaga kerja, dan pemberdayaan masyarakat. Pendekatan ini penting karena satu instansi saja tidak dapat menyelesaikan masalah putus sekolah.
Pemerintah daerah juga berencana memperkuat program bantuan pendidikan. Mereka memperluas beasiswa untuk anak tidak mampu. Mereka menggencarkan sosialisasi tentang pentingnya pendidikan, terutama di wilayah dengan angka putus sekolah tinggi.
Thomas berharap langkah-langkah ini bisa menekan angka 20.534 tersebut. Sebab, masa depan puluhan ribu anak Lampung membutuhkan perhatian serius dari semua pihak.











