KUNINGAN, GLOBALSIAR.COM (24 OKTOBER 2026) – Penanganan intensif terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Gunung Ciremai kini memasuki babak baru dengan diterapkannya tiga langkah strategis. Dedi Mulyadi menekankan pentingnya sinergi antara tindakan lapangan dan pemanfaatan teknologi untuk memastikan api tidak merembet ke area vegetasi yang lebih luas. Upaya ini dilakukan guna melindungi ekosistem gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut dari kerusakan permanen akibat amukan si jago merah.
Langkah pertama yang menjadi prioritas adalah optimalisasi pemadaman melalui jalur darat secara manual. Personel gabungan yang terdiri dari tim pemadam, relawan, dan masyarakat setempat dikerahkan untuk membuat sekat bakar di titik-titik yang masih terjangkau. Selain memutus jalur api, tim darat juga bertugas menyisir sisa-sisa bara untuk mencegah terjadinya penyalaan kembali akibat tiupan angin kencang yang sering terjadi di lereng gunung.
Mengingat kondisi geografis Gunung Ciremai yang memiliki banyak tebing curam dan area sulit dijangkau, strategi kedua melibatkan operasi udara melalui metode water bombing. Penggunaan helikopter pengangkut air dianggap sangat efektif untuk menjangkau titik api di medan ekstrem yang membahayakan keselamatan personel darat. Koordinasi dengan instansi terkait terus diperketat guna memastikan ketersediaan logistik dan armada udara tetap terjaga selama masa tanggap darurat berlangsung.
Sebagai langkah pamungkas, Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) disiapkan untuk memicu hujan buatan di wilayah terdampak kebakaran. Intervensi cuaca ini diharapkan mampu mendinginkan seluruh area hutan secara masif dan mematikan potensi api di bawah permukaan tanah yang sulit dideteksi secara visual. Dengan kombinasi ketiga metode ini, diharapkan krisis kebakaran di Gunung Ciremai dapat segera teratasi sepenuhnya.
Seluruh komponen masyarakat diimbau untuk tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu titik api baru di sekitar kawasan hutan. Pengawasan pasca-pemadaman juga akan dilakukan secara berkala untuk memastikan stabilitas lingkungan tetap terjaga setelah api berhasil dijinakkan. Langkah preventif jangka panjang turut disusun agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang, laporan ini ditulis ulang oleh GlobalSiar.














