Pria di Bangkalan Tertipu Imam Mahdi Gadungan Hingga Rp 1,3 Miliar PDI-P Tegas Tolak Usulan Luhut Soal Penghapusan Unsur Kerugian Negara dalam Korupsi Dishut Sumbar Ungkap Status Lahan Sawit di Lokasi Bekas Karhutla Dharmasraya Prabowo Subianto Soroti Sindiran Negara Asing Mengenai Isu Karhutla di Indonesia Jaksa Resmi Tolak Pembelaan Nurman Herin Terkait Klaim Intervensi Penyidik Jet Tempur Mirage 2000D Militer Prancis Jatuh, Satu Pilot Gugur dalam Tugas

Kesehatan dan Gizi

Ahli Ungkap 8 dari 10 Anak Indonesia Kekurangan DHA, Waspadai Perubahan Pola Minum

badge-check


					Ahli Ungkap 8 dari 10 Anak Indonesia Kekurangan DHA, Waspadai Perubahan Pola Minum Perbesar

sumber: antara/HO-BGN Nabire

JAWA TENGAH (GLOBALSIAR) – Dokter Spesialis Anak, Shyrien Amalina, mengingatkan bahwa sekitar 8 dari 10 anak Indonesia berusia 4 hingga 12 tahun memiliki asupan EPA dan DHA di bawah rekomendasi minimum dari FAO/WHO. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada Senin (24/8/2026), merujuk pada data yang dipublikasikan dalam British Journal of Nutrition pada tahun 2016.

Menurut dr. Shyrien, temuan ini menjadi perhatian penting bagi orang tua, terutama karena kecukupan DHA sangat krusial untuk mendukung perkembangan dan fungsi otak anak. Hal ini dinilai semakin relevan seiring dengan perubahan kebiasaan konsumsi minuman anak saat memasuki usia sekolah, di mana mereka cenderung beralih dari susu ke minuman bercita rasa seperti cokelat, teh kemasan, hingga minuman ringan.

Padahal, susu selama ini dikenal sebagai salah satu sumber DHA yang mudah dikonsumsi. Ketika konsumsi susu menurun drastis, asupan DHA pun ikut merosot, sementara kebutuhan otak anak pada usia tersebut justru berada pada puncaknya. Dokter Shyrien menekankan bahwa kecukupan asam lemak esensial, seperti Arachidonic Acid (AA) dan Docosahexaenoic Acid (DHA), tetap penting bagi anak usia sekolah dan remaja untuk mendukung proses pembelajaran serta pematangan fungsi otak.

Lebih lanjut, data dari berbagai lembaga kesehatan anak menunjukkan bahwa defisiensi DHA pada usia sekolah dapat memengaruhi kemampuan belajar, daya ingat, hingga regulasi emosi. Namun, kondisi ini sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas, sehingga orang tua kerap tidak menyadarinya.

Oleh karena itu, orang tua disarankan untuk tidak hanya mempertimbangkan rasa yang disukai anak dalam memilih minuman, tetapi juga kandungan nutrisinya. Pilihan minuman bernutrisi, termasuk yang mengandung DHA, idealnya tetap hadir dalam format yang dapat diterima dan dinikmati anak tanpa paksaan. Edukasi kepada orang tua menjadi kunci utama agar mereka dapat mengambil langkah proaktif untuk memastikan kecukupan gizi otak anak.

(Red/SKP)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bakteri E. Coli Ditemukan di Peralatan Makan SPPG Sukabumi, Diduga Picu Keracunan

19 Oktober 2026 - 23:06 WIB

Badan Gizi Nasional Terapkan Sistem Prasmanan Makan Bergizi Gratis Secara Bertahap

17 Oktober 2026 - 18:33 WIB

BGN Tutup Permanen Dua Satuan Pelayanan Gizi di Jawa Tengah

14 Oktober 2026 - 13:03 WIB

Program Makan Bergizi Gratis: Antara Kualitas SDM dan Akselerasi Ekonomi Nasional

12 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Kasus Keracunan 45 Siswa, Perusahaan Katering di Singapura Dijatuhi Denda Rp 160 Juta

10 Oktober 2026 - 18:36 WIB

Trending di Ekonomi & Bisnis