
sumber: antara/HO-BGN Nabire
JAWA TENGAH (GLOBALSIAR) – Dokter Spesialis Anak, Shyrien Amalina, mengingatkan bahwa sekitar 8 dari 10 anak Indonesia berusia 4 hingga 12 tahun memiliki asupan EPA dan DHA di bawah rekomendasi minimum dari FAO/WHO. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta pada Senin (24/8/2026), merujuk pada data yang dipublikasikan dalam British Journal of Nutrition pada tahun 2016.
Menurut dr. Shyrien, temuan ini menjadi perhatian penting bagi orang tua, terutama karena kecukupan DHA sangat krusial untuk mendukung perkembangan dan fungsi otak anak. Hal ini dinilai semakin relevan seiring dengan perubahan kebiasaan konsumsi minuman anak saat memasuki usia sekolah, di mana mereka cenderung beralih dari susu ke minuman bercita rasa seperti cokelat, teh kemasan, hingga minuman ringan.
Padahal, susu selama ini dikenal sebagai salah satu sumber DHA yang mudah dikonsumsi. Ketika konsumsi susu menurun drastis, asupan DHA pun ikut merosot, sementara kebutuhan otak anak pada usia tersebut justru berada pada puncaknya. Dokter Shyrien menekankan bahwa kecukupan asam lemak esensial, seperti Arachidonic Acid (AA) dan Docosahexaenoic Acid (DHA), tetap penting bagi anak usia sekolah dan remaja untuk mendukung proses pembelajaran serta pematangan fungsi otak.
Lebih lanjut, data dari berbagai lembaga kesehatan anak menunjukkan bahwa defisiensi DHA pada usia sekolah dapat memengaruhi kemampuan belajar, daya ingat, hingga regulasi emosi. Namun, kondisi ini sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas, sehingga orang tua kerap tidak menyadarinya.
Oleh karena itu, orang tua disarankan untuk tidak hanya mempertimbangkan rasa yang disukai anak dalam memilih minuman, tetapi juga kandungan nutrisinya. Pilihan minuman bernutrisi, termasuk yang mengandung DHA, idealnya tetap hadir dalam format yang dapat diterima dan dinikmati anak tanpa paksaan. Edukasi kepada orang tua menjadi kunci utama agar mereka dapat mengambil langkah proaktif untuk memastikan kecukupan gizi otak anak.
(Red/SKP)
















