Zhoumi Super Junior-M Ditunjuk sebagai CEO Perusahaan Gabungan SM-TME Mengintip Replika Tembok Konstantinopel di Balik Layar Serial Mehmed: Fetihler Sultanı Undertale: The Determination Symphony Hadir di Jakarta 11 Oktober 2026 Ekonom: Kerja Sama Indonesia-Rusia Positif untuk Perluasan Ekspor Vicky Shu Akui Hobi Berdagang, Tak Gengsi Cari Job hingga Jualan di Media Sosial IU Siap Rilis Karya Baru pada September 2026, Rilis Video Teaser

Uncategorized

Puding, Es, Lumpia hingga Bolu Ubi Ungu, Inovasi Pangan Sehat untuk Jaga Kesehatan Jantung Warga Klaten

badge-check


					Puding, Es, Lumpia hingga Bolu Ubi Ungu, Inovasi Pangan Sehat untuk Jaga Kesehatan Jantung Warga Klaten Perbesar

KLATEN – Ubi jalar ungu selama ini lebih banyak dikenal masyarakat sebagai pangan yang dikonsumsi dengan cara direbus atau dikukus. Namun, di tangan tim pengabdian masyarakat Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surakarta, pangan lokal tersebut diolah menjadi aneka makanan sehat dan menarik, mulai dari puding, es, lumpia hingga bolu.

Inovasi tersebut diperkenalkan kepada 50 ibu-ibu PKK Desa Kunden, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, melalui kegiatan edukasi dan pelatihan pengolahan ubi jalar ungu sebagai pangan fungsional untuk mendukung kesehatan jantung.

Kegiatan dilaksanakan dalam dua tahap, yakni penyuluhan pada Kamis (25/6/2026) dan pelatihan pengolahan pada Kamis (30/7/2026), bertempat di Aula Desa Kunden. Kegiatan dipimpin oleh Ricka Prasdiantika, M.Sc. bersama Praptanti Sinung Adi Nugroho, M.Sc., dosen Jurusan Analisis Farmasi dan Makanan, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surakarta.

Program pengabdian kepada masyarakat tersebut didanai Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surakarta melalui Skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Anggaran BLU Tahun 2026 dengan Nomor SP DIPA-024.12.2.632259/2026.

Ubi Ungu Kaya Antioksidan

Ricka Prasdiantika menjelaskan, ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.) dipilih karena memiliki kandungan antosianin dan serat yang cukup tinggi. Dalam kajian yang menjadi rujukan kegiatan, kandungan antosianin ubi jalar ungu mencapai sekitar 110, 15 mg per 100 gram, sedangkan serat kasarnya sekitar 1,2 gram per 100 gram.

“Desa Kunden termasuk wilayah dengan angka kejadian hipertensi yang cukup tinggi. Padahal, hipertensi kerap disebut silent killer karena bisa berlangsung tanpa gejala hingga menimbulkan komplikasi serius pada jantung,” ujar Ricka Prasdiantika.

Menurut tim, antosianin merupakan senyawa flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan. Kajian yang menjadi rujukan juga menunjukkan aktivitas antioksidan ekstrak ubi jalar ungu yang berbeda berdasarkan metode pengolahannya. Ekstrak ubi mentah memiliki nilai IC50 sebesar 5,00 ppm, ubi yang dikukus 47,82 ppm, dan ubi yang direbus 86,22 ppm.

Diolah Menjadi Pangan Kekinian

Untuk meningkatkan pemanfaatan ubi jalar ungu sekaligus memberikan alternatif pangan sehat bagi masyarakat, tim memperkenalkan empat jenis olahan, yakni puding ubi ungu, es ubi ungu, lumpia ubi ungu, dan bolu ubi ungu. Produk tersebut dirancang dengan penggunaan gula dan garam tambahan yang lebih rendah, dengan tetap mempertahankan pemanfaatan bahan pangan lokal yang kaya antosianin dan serat.

“Es dan lumpia ubi jalar ungu ternyata menjadi hal yang paling baru bagi peserta. Kami tidak hanya membagikan resep, tetapi juga menjelaskan alasan ilmiah di balik setiap bahan, sehingga peserta memahami mengapa olahan ini baik untuk kesehatan jantung,” kata Ricka.

Peserta Aktif Berdiskusi

Kegiatan tidak hanya berupa praktik memasak, tetapi diawali dengan penyuluhan interaktif menggunakan media presentasi dan leaflet bergambar. Peserta kemudian mengikuti sesi tanya jawab serta Focus Group Discussion (FGD).

Materi yang diberikan meliputi pengertian penyakit kardiovaskular, faktor risiko, dampak, upaya pencegahan, serta kandungan gizi dan manfaat ubi jalar ungu. Peserta juga memperoleh leaflet resep sehingga dapat mempraktikkan kembali pengolahan ubi jalar ungu secara mandiri di rumah.

Praptanti Sinung Adi Nugroho menegaskan bahwa materi yang diberikan kepada masyarakat disusun berdasarkan kajian literatur ilmiah. “Pola makan rendah natrium serta tinggi antioksidan dan serat perlu menjadi bagian dari gaya hidup sehat, terutama bagi kelompok berisiko tinggi seperti lansia dan warga dengan riwayat hipertensi,” tegas Sinung.

Diharapkan Berlanjut di Tingkat Keluarga

Tim pengabdian berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh para ibu PKK tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan dalam menu keluarga sehari-hari.

“Ibu-ibu PKK memiliki peran sentral dalam menentukan menu makan keluarga, sehingga perubahan pola makan yang lebih sehat berbasis pangan lokal ini kami harapkan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas,” ujar Ricka.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Jurusan Analisis Farmasi dan Makanan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surakarta dalam mentransfer pengetahuan kepada masyarakat, khususnya mengenai pemanfaatan pangan lokal untuk mendukung pola hidup dan kesehatan jantung.

(Red/SKP)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Danantara Dorong Transformasi Menyeluruh Rumah Sakit BUMN di Bawah IHC

4 September 2026 - 20:03 WIB

Fenomena El Nino Ekstrem Diprediksi Bertahan Hingga Februari 2027

3 September 2026 - 23:10 WIB

Kepala BGN Sebut Insiden Keracunan MBG di Sidoarjo Sebagai Kelalaian yang Disengaja

3 September 2026 - 19:07 WIB

Ratusan Santri Sidoarjo Keracunan MBG, LBH Desak Usut Tuntas Rantai Pasok Makanan

3 September 2026 - 10:17 WIB

Benarkah Asap Kebakaran Hutan Bisa Tingkatkan Risiko Demensia? Ini Fakta Terbaru

3 September 2026 - 10:00 WIB

Trending di Bencana Alam