Zhoumi Super Junior-M Ditunjuk sebagai CEO Perusahaan Gabungan SM-TME Mengintip Replika Tembok Konstantinopel di Balik Layar Serial Mehmed: Fetihler Sultanı Undertale: The Determination Symphony Hadir di Jakarta 11 Oktober 2026 Ekonom: Kerja Sama Indonesia-Rusia Positif untuk Perluasan Ekspor Vicky Shu Akui Hobi Berdagang, Tak Gengsi Cari Job hingga Jualan di Media Sosial IU Siap Rilis Karya Baru pada September 2026, Rilis Video Teaser

Bencana Alam

Benarkah Asap Kebakaran Hutan Bisa Tingkatkan Risiko Demensia? Ini Fakta Terbaru

badge-check


					Benarkah Asap Kebakaran Hutan Bisa Tingkatkan Risiko Demensia? Ini Fakta Terbaru Perbesar

ilustrasi karhutla (pexels.com/Deep Rajwar)

JAKARTA (GLOBALSIAR) – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang paling sering dirasakan adalah efek jangka pendek seperti iritasi mata, gangguan tenggorokan, dan sesak napas. Namun, para peneliti kini mulai menyoroti potensi efek jangka panjangnya, salah satunya adalah kaitannya dengan risiko demensia.

Hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa asap karhutla secara langsung menyebabkan demensia. Yang lebih pasti adalah polusi udara secara umum telah diakui sebagai faktor yang dapat berkontribusi terhadap penurunan kognitif dan demensia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan dalam pedoman terbarunya memasukkan pengurangan paparan polusi udara sebagai bagian dari upaya menurunkan risiko penurunan kognitif.

1. PM2.5 dari Asap Karhutla dan Potensi Dampaknya pada Otak
Salah satu komponen utama asap karhutla adalah partikel halus PM2.5, yang berdiameter tidak lebih dari 2,5 mikrometer. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel ini masuk jauh ke dalam paru-paru dan bahkan dapat mencapai sistem peredaran darah. Penelitian menunjukkan bahwa paparan PM2.5 jangka panjang dapat memicu stres oksidatif, peradangan saraf, dan gangguan pada sawar darah-otak, yang semuanya berpotensi memengaruhi fungsi otak.

Sebuah meta-analisis terhadap puluhan juta peserta menemukan bahwa setiap kenaikan paparan PM2.5 berkaitan dengan peningkatan risiko demensia, meskipun besaran hubungannya bervariasi antar penelitian. Namun, PM2.5 berasal dari berbagai sumber, dan pertanyaan utamanya adalah apakah partikel dari kebakaran hutan memiliki efek yang sama.

2. Hasil Penelitian yang Masih Belum Seragam
Beberapa studi memberikan hasil yang saling melengkapi maupun bertentangan. Sebuah studi tahun 2023 di jurnal JAMA Internal Medicine yang melibatkan 27.857 orang dewasa di AS menemukan bahwa PM2.5 yang berasal dari kebakaran hutan, setelah dikoreksi dengan polutan lain, tetap berkaitan dengan tingkat kejadian demensia yang lebih tinggi.

Namun, penelitian lain di jurnal JAMA Neurology yang menggunakan data lebih dari 1,2 juta orang di California Selatan justru menemukan hasil berbeda. Analisis awal menunjukkan hubungan yang signifikan, tetapi peneliti kemudian menemukan kesalahan dalam kode identifikasi kasus demensia. Setelah diperbaiki, hubungan utama antara rata-rata paparan PM2.5 dari kebakaran hutan dan demensia menjadi tidak signifikan secara statistik. Jurnal tersebut kemudian menarik dan mengganti versi awal penelitian pada Juni 2025.

Selain itu, bukti juga menunjukkan bahwa asap kebakaran hutan dapat memengaruhi fungsi kognitif dalam jangka pendek. Studi terhadap 10.228 orang dewasa menemukan bahwa paparan asap dalam hitungan jam hingga hari berkaitan dengan penurunan skor pada permainan yang mengukur perhatian. Namun, kesulitan berkonsentrasi sesaat ini tidak sama dengan demensia.

Kesimpulan: Apakah Asap Karhutla Meningkatkan Risiko Demensia?
WHO telah mengakui polusi udara sebagai faktor lingkungan yang berkaitan dengan risiko demensia. Namun, untuk PM2.5 yang secara spesifik berasal dari karhutla, hasil penelitian masih belum konsisten. Hal ini mungkin disebabkan oleh sifat karhutla yang episodik, komposisi asap yang berbeda-beda, dan sulitnya memperkirakan paparan seseorang dalam jangka panjang.

Dengan kata lain, menghirup asap karhutla tidak otomatis menyebabkan demensia, tetapi belum ada alasan untuk menganggap asap tersebut aman bagi otak. Oleh karena itu, ketika kualitas udara memburuk, langkah-langkah pencegahan seperti mengurangi waktu di luar ruangan, menghindari aktivitas berat, menjaga udara dalam ruangan tetap bersih, dan menggunakan masker partikulat yang sesuai tetap sangat penting untuk mengurangi paparan PM2.5.

[Red/Rizqika]

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Danantara Dorong Transformasi Menyeluruh Rumah Sakit BUMN di Bawah IHC

4 September 2026 - 20:03 WIB

Pohon Tumbang di Jalan Pandanaran Semarang Timpa Sejumlah Pengendara

4 September 2026 - 14:35 WIB

Update Kebakaran TPA Putri Cempo Solo: Pemadaman Capai 40 Persen

4 September 2026 - 13:51 WIB

Ribuan Sekolah di NTT Terdampak Gempa M 7.7, Ratusan Rusak Berat

4 September 2026 - 13:47 WIB

24 Daerah di Jawa Timur Resmi Tetapkan Status Darurat Kekeringan

4 September 2026 - 13:28 WIB

Trending di Bencana Alam