SURABAYA, GLOBALSIAR.COM (4 SEPTEMBER 2026) – Sebanyak 24 kabupaten dan kota di Jawa Timur resmi menetapkan status darurat kekeringan di Jatim guna menghadapi puncak musim kemarau yang berlangsung sepanjang September. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mengambil langkah cepat ini untuk memfasilitasi distribusi bantuan air bersih bagi ribuan warga yang terdampak krisis air. Penurunan curah hujan yang signifikan menjadi pemicu utama penetapan status darurat di berbagai wilayah mulai dari pesisir hingga pegunungan.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, merinci bahwa wilayah tersebut mencakup daerah seperti Bondowoso, Lamongan, hingga wilayah Madura seperti Bangkalan dan Sumenep. Dari total daerah tersebut, enam wilayah telah menaikkan status menjadi tanggap darurat, sementara 19 daerah lainnya secara masif melakukan penyaluran bantuan air bersih. Tim BPBD telah menyiagakan ribuan rit tangki air guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah kondisi darurat kekeringan di Jatim.
Kondisi ini diperkirakan dapat meluas hingga mencakup 29 kabupaten dan kota seiring potensi musim kemarau yang mungkin memanjang hingga November mendatang. Pihak berwenang terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau awan hujan guna menjajaki peluang operasi modifikasi cuaca. Selain ketersediaan air bersih, pemerintah juga mulai mewaspadai risiko kebakaran hutan dan lahan yang sering meningkat drastis selama periode darurat kekeringan di Jatim.
Sebagai upaya mitigasi berkelanjutan, BPBD Jatim telah menyiapkan stok logistik berupa tandon air dan terpal penampung untuk dibagikan ke lokasi-lokasi yang paling terisolasi. Masyarakat diimbau untuk menggunakan air secara bijak dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran lahan di area terbuka. Seluruh perkembangan terkait penanganan krisis air ini terus dipantau dan dilaporkan secara berkala, di mana laporan ini disusun kembali oleh GlobalSiar.
















