KLATEN – Ubi jalar ungu selama ini lebih banyak dikenal masyarakat sebagai pangan yang dikonsumsi dengan cara direbus atau dikukus. Namun, di tangan tim pengabdian masyarakat Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surakarta, pangan lokal tersebut diolah menjadi aneka makanan sehat dan menarik, mulai dari puding, es, lumpia hingga bolu.
Inovasi tersebut diperkenalkan kepada 50 ibu-ibu PKK Desa Kunden, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, melalui kegiatan edukasi dan pelatihan pengolahan ubi jalar ungu sebagai pangan fungsional untuk mendukung kesehatan jantung.
Kegiatan dilaksanakan dalam dua tahap, yakni penyuluhan pada Kamis (25/6/2026) dan pelatihan pengolahan pada Kamis (30/7/2026), bertempat di Aula Desa Kunden. Kegiatan dipimpin oleh Ricka Prasdiantika, M.Sc. bersama Praptanti Sinung Adi Nugroho, M.Sc., dosen Jurusan Analisis Farmasi dan Makanan, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surakarta.
Program pengabdian kepada masyarakat tersebut didanai Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surakarta melalui Skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Anggaran BLU Tahun 2026 dengan Nomor SP DIPA-024.12.2.632259/2026.

Ubi Ungu Kaya Antioksidan
Ricka Prasdiantika menjelaskan, ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.) dipilih karena memiliki kandungan antosianin dan serat yang cukup tinggi. Dalam kajian yang menjadi rujukan kegiatan, kandungan antosianin ubi jalar ungu mencapai sekitar 110, 15 mg per 100 gram, sedangkan serat kasarnya sekitar 1,2 gram per 100 gram.
“Desa Kunden termasuk wilayah dengan angka kejadian hipertensi yang cukup tinggi. Padahal, hipertensi kerap disebut silent killer karena bisa berlangsung tanpa gejala hingga menimbulkan komplikasi serius pada jantung,” ujar Ricka Prasdiantika.
Menurut tim, antosianin merupakan senyawa flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan. Kajian yang menjadi rujukan juga menunjukkan aktivitas antioksidan ekstrak ubi jalar ungu yang berbeda berdasarkan metode pengolahannya. Ekstrak ubi mentah memiliki nilai IC50 sebesar 5,00 ppm, ubi yang dikukus 47,82 ppm, dan ubi yang direbus 86,22 ppm.
Diolah Menjadi Pangan Kekinian
Untuk meningkatkan pemanfaatan ubi jalar ungu sekaligus memberikan alternatif pangan sehat bagi masyarakat, tim memperkenalkan empat jenis olahan, yakni puding ubi ungu, es ubi ungu, lumpia ubi ungu, dan bolu ubi ungu. Produk tersebut dirancang dengan penggunaan gula dan garam tambahan yang lebih rendah, dengan tetap mempertahankan pemanfaatan bahan pangan lokal yang kaya antosianin dan serat.
“Es dan lumpia ubi jalar ungu ternyata menjadi hal yang paling baru bagi peserta. Kami tidak hanya membagikan resep, tetapi juga menjelaskan alasan ilmiah di balik setiap bahan, sehingga peserta memahami mengapa olahan ini baik untuk kesehatan jantung,” kata Ricka.
Peserta Aktif Berdiskusi
Kegiatan tidak hanya berupa praktik memasak, tetapi diawali dengan penyuluhan interaktif menggunakan media presentasi dan leaflet bergambar. Peserta kemudian mengikuti sesi tanya jawab serta Focus Group Discussion (FGD).
Materi yang diberikan meliputi pengertian penyakit kardiovaskular, faktor risiko, dampak, upaya pencegahan, serta kandungan gizi dan manfaat ubi jalar ungu. Peserta juga memperoleh leaflet resep sehingga dapat mempraktikkan kembali pengolahan ubi jalar ungu secara mandiri di rumah.
Praptanti Sinung Adi Nugroho menegaskan bahwa materi yang diberikan kepada masyarakat disusun berdasarkan kajian literatur ilmiah. “Pola makan rendah natrium serta tinggi antioksidan dan serat perlu menjadi bagian dari gaya hidup sehat, terutama bagi kelompok berisiko tinggi seperti lansia dan warga dengan riwayat hipertensi,” tegas Sinung.
Diharapkan Berlanjut di Tingkat Keluarga
Tim pengabdian berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh para ibu PKK tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan dalam menu keluarga sehari-hari.
“Ibu-ibu PKK memiliki peran sentral dalam menentukan menu makan keluarga, sehingga perubahan pola makan yang lebih sehat berbasis pangan lokal ini kami harapkan dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas,” ujar Ricka.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen Jurusan Analisis Farmasi dan Makanan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surakarta dalam mentransfer pengetahuan kepada masyarakat, khususnya mengenai pemanfaatan pangan lokal untuk mendukung pola hidup dan kesehatan jantung.
(Red/SKP)

















