Jaksa Resmi Tolak Pembelaan Nurman Herin Terkait Klaim Intervensi Penyidik Jet Tempur Mirage 2000D Militer Prancis Jatuh, Satu Pilot Gugur dalam Tugas KPK Resmi Surati Panglima TNI Terkait Dugaan Keterlibatan Prajurit Aktif dalam Kasus Korupsi Tinjauan Dua Tahun Program Bantuan Negara di Bawah Kepemimpinan Presiden Prabowo Komdis PSSI Sanksi Persija Jakarta: Denda Rp90 Juta dan Larangan Suporter Tandang Dikembangkan Kreator Asal Wonogiri, Slendro AI Tawarkan Ratusan Fitur untuk Produksi Konten Digital

Ekonomi & Bisnis

Hanif Faisol: Kita Tidak Ikhlas! Hampir 80 Persen Susu RI Impor, Peternak Lokal Terkendala Lahan

badge-check


					Hanif Faisol: Kita Tidak Ikhlas! Hampir 80 Persen Susu RI Impor, Peternak Lokal Terkendala Lahan Perbesar

GlobalSiar.com – Indonesia masih sangat bergantung pada impor susu sapi. Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol, mengungkapkan fakta mengejutkan. Hampir 80 persen kebutuhan susu nasional dipasok dari luar negeri.

“Kita tentu tidak ikhlas ya dengan kebutuhan susu yang demikian besarnya hampir 80 persen dipenuhi dari impor,” ujar Hanif usai meninjau peternakan sapi perah di kawasan Cisarua, Puncak Bogor, Minggu (7/6/2026).

Konsumsi Susu Nasional Jauh dari Standar FAO

Hanif membeberkan data yang lebih memprihatinkan. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) merekomendasikan konsumsi susu ideal mencapai 30 kilogram per kapita per tahun. Namun, konsumsi masyarakat Indonesia baru berkisar 16,2 hingga 16,8 kilogram per kapita per tahun.

Artinya, konsumsi susu nasional masih di bawah standar. Ironisnya, untuk memenuhi angka yang rendah itu pun, 80 persennya harus diimpor.

“Untuk memenuhi itu saja, 80 persennya masih impor, apalagi untuk memenuhi 30 kilogram per tahun per kapita,” tegas Hanif.

Persoalan Mendasar Industri Susu Dalam Negeri

Mengapa produksi susu lokal tidak bisa mencukupi? Hanif mengidentifikasi sejumlah persoalan mendasar. Pertama, keterbatasan lahan untuk peternakan. Kedua, ketersediaan pakan dan konsentrat yang belum memadai. Ketiga, disparitas harga antara peternak dan koperasi.

“Kurangnya ketersediaan lahan, kurangnya ketersediaan pangan buat tanaman, ketersediaan konsentrat pakan, kemudian adanya disparitas antara harga di petani dengan di koperasi,” paparnya.

Semua persoalan ini harus diselesaikan bersama oleh kementerian terkait.

Cisarua: Sentra Susu yang Hendak Dihidupkan Kembali

Hanif menyebut kawasan Cisarua sebagai bahan pembelajaran. Pemerintah ingin mengembalikan citra Cisarua sebagai sentra produksi susu nasional.

Sebagai langkah awal, Kementerian Koordinator Bidang Pangan akan menggelar rapat koordinasi. Rapat ini melibatkan kementerian terkait, akademisi, dan tokoh peternak di wilayah tersebut.

“Saya akan mengundang rapat koordinasi dengan level eselon I dengan tokoh-tokoh di sini, dengan akademisi, untuk kemudian mengkonstruksikan permasalahan yang ada di Cisarua ini,” ujar Hanif.

“Harapan kami tentu kita ingin sekali mengembalikan brand Cisarua ini sebagai salah satu sentral susu nasional,” pungkas mantan menteri lingkungan hidup ini.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Jaksa Resmi Tolak Pembelaan Nurman Herin Terkait Klaim Intervensi Penyidik

21 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Jet Tempur Mirage 2000D Militer Prancis Jatuh, Satu Pilot Gugur dalam Tugas

21 Oktober 2026 - 18:39 WIB

KPK Resmi Surati Panglima TNI Terkait Dugaan Keterlibatan Prajurit Aktif dalam Kasus Korupsi

21 Oktober 2026 - 18:36 WIB

Tinjauan Dua Tahun Program Bantuan Negara di Bawah Kepemimpinan Presiden Prabowo

21 Oktober 2026 - 18:33 WIB

Komdis PSSI Sanksi Persija Jakarta: Denda Rp90 Juta dan Larangan Suporter Tandang

21 Oktober 2026 - 18:30 WIB

Trending di Headline