JAKARTA, GLOBALSIAR.COM (23 OKTOBER 2026) – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia kini telah menempati posisi strategis sebagai kekuatan ekonomi ketujuh terbesar di dunia. Pernyataan tersebut didasarkan pada proyeksi terbaru dari Dana Moneter Internasional (IMF) yang menyoroti fundamental ekonomi nasional yang semakin kokoh di kancah global. Kepala Negara menyampaikan hal ini dalam forum Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) yang berlangsung di JIExpo, Jakarta.
Menanggapi pernyataan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan penjelasan teknis mengenai indikator yang digunakan dalam pemeringkatan tersebut. Airlangga merinci bahwa posisi ketujuh tersebut diukur menggunakan metode Purchasing Power Parity (PPP) atau paritas daya beli. Metode ini mencerminkan kemampuan belanja riil masyarakat di dalam negeri secara lebih akurat dibandingkan dengan hanya menggunakan nilai tukar pasar mata uang asing.
Lebih lanjut, Airlangga menjelaskan terdapat perbedaan signifikan jika ekonomi Indonesia diukur menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal dalam satuan dolar Amerika Serikat. Jika menggunakan basis nominal tersebut, posisi Indonesia saat ini berada di peringkat ke-16 atau ke-17 di antara negara-negara anggota G20. Namun, penggunaan metode PPP dianggap sangat relevan untuk menunjukkan kapasitas pasar domestik yang sangat besar serta potensi daya beli yang menjadi daya tarik utama bagi para investor global di masa depan.
Presiden Prabowo menekankan bahwa capaian prestisius ini harus menjadi sumber kepercayaan diri bagi seluruh elemen bangsa untuk terus membangun kemandirian ekonomi nasional. Meski demikian, pemerintah tetap berkomitmen untuk memastikan agar pertumbuhan ekonomi tersebut dapat dirasakan manfaatnya secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat melalui penguatan akses keuangan dan peningkatan kesejahteraan rakyat secara nyata, sebagaimana disusun kembali oleh GlobalSiar.












