GlobalSiar.com – Tumpukan sampah raksasa di Muara Angke, Jakarta Utara, masih belum sepenuhnya bersih. Padahal, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung sebelumnya mengklaim titik tersebut sudah selesai ditangani. Pantauan Kompas.com pada Senin (8/6/2026) pukul 10.00 WIB membuktikan sebaliknya.
Aktivitas pembersihan masih berlangsung. Satu unit excavator dan sejumlah petugas Dinas Lingkungan Hidup masih berada di atas tumpukan sampah. Mereka mengenakan baju oranye dan hijau, mengais sampah lalu memasukkannya ke karung putih.
“Pulau” Sampah Mengecil, Tapi Belum Tuntas
Tumpukan sampah yang sempat viral karena menyerupai “pulau” itu kini sudah jauh mengecil. Panjangnya tinggal sekitar 10 meter. Namun, sampah seperti bungkus plastik dan kayu masih menyangkut di sedimentasi lumpur.
Proses pembersihan belum rampung sepenuhnya.
Nelayan: Jalur Keluar Kapal Makin Sempit
Para nelayan di Kali Adem mengeluhkan hal berbeda. Mereka menyebut tumpukan sampah dan sedimentasi lumpur berada tepat di jalur keluar kapal. Kondisi ini semakin parah.
Ano (45), seorang nelayan, membandingkan dengan kondisi dulu. “Kalau dulu lebar. Biarpun hari ini kandas, besok lancar. Sekarang, kalau makin kandas ya kandas terus. Makin sempit, jalan kali jadi enggak lancar airnya,” tuturnya.
Ia mengaku kini hanya bisa pasrah. Ia menunggu tindakan nyata dari pemerintah.
“Cuma kalau di daerah Muara Angke ini emang susah, nanganinnya enggak bisa. Ya paling bisanya ya begini lah, hanya merata,” ujarnya.
Nelayan: Pengerukan Tak Sentuh Jalur Kapal
Nelayan lain, Yudi (bukan nama sebenarnya), menyoroti cara pengerukan yang selama ini dilakukan. Menurutnya, pengerukan jarang menyentuh bagian tengah muara. Padahal, di situlah jalur kapal para nelayan.
“Kita mah enggak perlu lebar, yang penting agak dalam aja gitu jalur. Jadi enak walaupun air kali kencang, kalau rada dalam kan enggak kandas baling-baling, enggak kena plastik di dasar,” kata Yudi.
Pemerintah Klaim Sudah Ditangani, Fakta di Lapangan Berbeda
Sebelumnya, Gubernur Pramono Anung menyebut proses penanganan sampah di kawasan pesisir, termasuk Muara Angke, sudah dilakukan. Namun, fakta di lapangan menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah. Tumpukan sampah dan sedimentasi lumpur masih menghantui para nelayan.










