SEOUL, GLOBALSIAR.COM (16/09/2026) – Gelombang penipuan di pasar modal Korea Selatan telah mencapai titik yang mengkhawatirkan setelah laporan terbaru menunjukkan total kerugian investor ritel menyentuh angka Rp 4,36 triliun (sekitar 336 miliar won) sepanjang semester pertama tahun 2026. Lonjakan nilai kerugian ini mencerminkan tren yang semakin berbahaya di tengah fluktuasi ekonomi global, di mana para pelaku kejahatan siber memanfaatkan ketidakpastian pasar untuk menjerat masyarakat yang mencari keuntungan instan di bursa saham.
Berdasarkan data resmi kepolisian setempat, terdapat sedikitnya 3.506 kasus yang berkaitan dengan ruang obrolan rekomendasi saham ilegal yang diselidiki antara Januari hingga Juni 2026. Meskipun jumlah kasus hanya meningkat tipis sebesar 4,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, nilai kerugian finansial yang dialami para korban justru meroket hingga 19,8 persen. Situasi ini diperparah oleh kondisi indeks Korea Composite Stock Price Index (KOSPI) yang sempat mengalami koreksi tajam hingga 44 persen dari level tertingginya pada pertengahan Juni lalu.
Modus operandi yang digunakan oleh sindikat penipuan ini semakin canggih, mulai dari menyamar sebagai analis keuangan ternama hingga menyebarkan rekomendasi palsu di kolom komentar platform berbagi video. Para pelaku sengaja menargetkan investor pemula dengan memanfaatkan psikologi ‘fear of missing out’ atau rasa takut tertinggal tren saat pasar sedang mengalami volatilitas tinggi. Korban biasanya diarahkan ke dalam grup percakapan privat di mana mereka dipandu untuk menyetorkan modal ke aplikasi investasi fiktif yang dikendalikan oleh jaringan kriminal tersebut.
Para ahli hukum dan otoritas keuangan memperingatkan bahwa volatilitas pasar merupakan celah besar bagi organisasi kriminal untuk melancarkan aksinya karena kondisi psikologis investor cenderung lebih tidak stabil. Selain pengetatan regulasi, edukasi literasi keuangan yang lebih masif dianggap sebagai langkah mendasar untuk melindungi aset masyarakat dari jeratan investasi bodong yang kian marak. Laporan mengenai krisis penipuan pasar modal di Korea Selatan ini disusun kembali oleh GlobalSiar.












