Bebas Penjara, Indra Kenz Mengaku Kini Tak Punya Rumah Lagi Polisi Belum Temukan Unsur Pidana Terkait Kasus Kematian Sutrimo Aksi Perampokan di Karawang: Uang Rp 1,3 Miliar Milik WNA Raib Dibawa Kabur Komplotan BNPB Ungkap Karhutla di 6 Provinsi Prioritas Menurun Drastis, Tersisa 96 Hektar Aparat Bubarkan Aksi Pengibaran Bendera Bintang Kejora di Kampus USTJ Jayapura Aktivitas Tambang Ilegal di Sangihe Diduga Keruk Emas Senilai Rp 200 Miliar

Headline

Donald Trump Tegas Tolak Permintaan Arab Saudi untuk Serang Houthi di Yaman

badge-check


					(AFP/BRENDAN SMIALOWSKI) Perbesar

(AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)

WASHINGTON, GLOBALSIAR.COM (11 SEPTEMBER 2026) – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi menolak permohonan dari pemerintah Arab Saudi yang meminta bantuan militer langsung untuk melancarkan serangan terhadap kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Keputusan ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut, di mana Washington kini menunjukkan sikap yang lebih berhati-hati dalam melibatkan diri pada konflik bersenjata di luar negeri. Trump menekankan bahwa prioritas utamanya adalah menjaga stabilitas nasional dan menghindari keterlibatan Amerika dalam perang berkepanjangan yang tidak berujung.

Laporan menyebutkan bahwa pihak Riyadh sebelumnya mendesak Amerika Serikat untuk memberikan dukungan operasional udara guna meredam ancaman serangan drone dan rudal Houthi yang kerap menyasar infrastruktur strategis mereka. Namun, Trump merespons dengan menyatakan bahwa intervensi militer skala besar tidak lagi menjadi opsi utama dalam kebijakan luar negerinya saat ini. Langkah ini dipandang sebagai bentuk nyata dari doktrin politiknya yang mengedepankan kepentingan domestik dibandingkan menjadi polisi dunia di wilayah yang penuh gejolak.

Sebagai alternatif, Trump menyarankan agar negara-negara di kawasan Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, untuk memperkuat kemandirian pertahanan mereka sendiri. Ia juga kembali menyentuh isu pembagian beban biaya pertahanan, dengan menyiratkan bahwa dukungan militer tambahan dari Washington harus diimbangi dengan kontribusi finansial yang sesuai dari pihak sekutu. Gedung Putih menegaskan bahwa setiap langkah militer yang diambil oleh Amerika Serikat di masa depan harus memberikan keuntungan yang jelas dan langsung bagi rakyat Amerika.

Ketegangan diplomatik antara Washington dan Riyadh diprediksi akan meningkat menyusul penolakan ini, mengingat hubungan erat yang selama ini terjalin dalam sektor pertahanan. Sejumlah analis internasional menilai bahwa kebijakan Trump ini akan memaksa negara-negara Teluk untuk mengevaluasi kembali strategi keamanan regional mereka tanpa ketergantungan penuh pada militer Amerika Serikat.

Hingga saat ini, pihak otoritas Arab Saudi belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah penolakan dari sekutu utamanya tersebut. Di sisi lain, kelompok Houthi di Yaman terus memantau perkembangan kebijakan ini yang berpotensi mengubah peta kekuatan militer di Semenanjung Arab secara signifikan dalam beberapa waktu ke depan. Berita mendalam mengenai perkembangan situasi di Yaman ini ditulis ulang oleh GlobalSiar.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bebas Penjara, Indra Kenz Mengaku Kini Tak Punya Rumah Lagi

30 September 2026 - 23:06 WIB

Polisi Belum Temukan Unsur Pidana Terkait Kasus Kematian Sutrimo

30 September 2026 - 23:03 WIB

Aksi Perampokan di Karawang: Uang Rp 1,3 Miliar Milik WNA Raib Dibawa Kabur Komplotan

30 September 2026 - 23:00 WIB

BNPB Ungkap Karhutla di 6 Provinsi Prioritas Menurun Drastis, Tersisa 96 Hektar

30 September 2026 - 20:03 WIB

Aparat Bubarkan Aksi Pengibaran Bendera Bintang Kejora di Kampus USTJ Jayapura

30 September 2026 - 20:00 WIB

Trending di Headline