OSLO, GLOBALSIAR.COM (9 OKTOBER 2026) – Harapan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk meraih Hadiah Nobel Perdamaian kembali kandas pada tahun 2026. Komite Nobel Norwegia secara resmi mengumumkan bahwa penghargaan bergengsi tersebut diberikan kepada Nihon Hidankyo, sebuah organisasi asal Jepang yang beranggotakan para penyintas bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Keputusan ini sekaligus mengakhiri spekulasi mengenai peluang Trump yang telah lama mendambakan pengakuan internasional atas upaya diplomatiknya selama masa jabatan kepresidenannya.
Kegagalan ini menambah daftar panjang upaya Trump yang belum membuahkan hasil dalam memperoleh penghargaan tersebut, meskipun dirinya kerap menyatakan kelayakan atas perannya dalam berbagai kesepakatan internasional. Trump sering kali menyebutkan dalam berbagai rapat umum politik bahwa ia seharusnya menerima Nobel atas prakarsa perdamaian seperti Perjanjian Abraham yang menormalisasi hubungan antara Israel dan beberapa negara Arab. Namun, komite penilai tampaknya tetap konsisten pada kriteria seleksi yang sangat ketat dan independen dalam menentukan pemenang setiap tahunnya.
Tahun ini, Komite Nobel memilih untuk memberikan penghormatan kepada gerakan akar rumput para saksi sejarah yang dikenal sebagai ‘Hibakusha’. Nihon Hidankyo dinilai sangat berjasa dalam upaya global untuk mewujudkan dunia yang bebas dari senjata nuklir melalui kesaksian-kesaksian pribadi yang menyentuh nurani dunia. Penekanan pada larangan penggunaan senjata nuklir menjadi tema sentral yang dianggap lebih mendesak oleh komite di tengah eskalasi konflik global yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar dunia saat ini.
Dengan pengumuman ini, pencapaian Trump di kancah diplomasi internasional tetap belum mendapatkan validasi tertinggi dari institusi di Oslo tersebut. Hingga saat ini, hanya segelintir Presiden AS yang berhasil mengantongi penghargaan tersebut, termasuk Barack Obama dan Theodore Roosevelt. Proses seleksi yang dilakukan secara tertutup membuat dinamika di balik layar tetap menjadi misteri bagi publik luas, dan artikel ini telah disusun kembali untuk memberikan perspektif mendalam oleh GlobalSiar.
















