SORONG, GLOBALSIAR.COM (08/10/2026) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas II Domine Eduard Osok (DEO) Sorong melaporkan temuan signifikan sebanyak 1.463 titik panas yang tersebar di wilayah Provinsi Papua Barat Daya. Data satelit ini dikumpulkan dalam kurun waktu delapan hari terakhir, terhitung sejak tanggal 1 hingga 8 Oktober 2026. Lonjakan sebaran panas ini menjadi perhatian serius bagi otoritas setempat guna mengantisipasi potensi gangguan lingkungan.
Berdasarkan rincian data spasial yang dirilis, Kabupaten Sorong Selatan tercatat sebagai wilayah dengan konsentrasi titik panas tertinggi, yakni mencapai 748 titik. Posisi berikutnya ditempati oleh Kabupaten Sorong dengan 326 titik, diikuti Kabupaten Tambrauw sebanyak 251 titik. Sementara itu, Kabupaten Maybrat mendeteksi 133 titik dan wilayah destinasi wisata Kabupaten Raja Ampat mencatatkan jumlah terendah dengan total 5 titik panas.
BMKG memberikan klarifikasi bahwa identifikasi hotspot melalui sensor satelit ini tidak serta-merta menunjukkan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara langsung di setiap titiknya. Namun, keberadaan titik-titik tersebut mengindikasikan adanya area yang memiliki suhu permukaan jauh lebih panas dibandingkan lingkungan sekitarnya. Fenomena ini merupakan indikator awal risiko kebakaran yang perlu mendapatkan pengawasan ketat dari pihak terkait.
Masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan menghindari aktivitas pembukaan lahan dengan metode pembakaran di tengah kondisi cuaca yang kering. Langkah pencegahan dini dinilai sangat krusial agar potensi panas tersebut tidak berkembang menjadi titik api yang dapat merusak ekosistem hutan tropis di tanah Papua. Laporan mengenai pemantauan intensif titik panas di wilayah timur Indonesia ini ditulis ulang oleh GlobalSiar.
















