Ilustrasi seseorang menahan sakit perut
JAKARTA (GLOBALSIAR) – Mengonsumsi minuman manis secara berlebihan dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker lambung, menurut temuan sebuah studi kesehatan yang dipublikasikan di Gastro Hep Advances. Studi baru ini menemukan bahwa orang yang minum setidaknya satu minuman dengan pemanis tambahan per hari memiliki risiko kanker lambung 2,45 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang sangat jarang meminumnya.
Pola ini ditemukan pada wanita dan pria, di mana risikonya lebih tinggi tiga kali lipat pada wanita dan dua kali lipat pada pria. Para peneliti juga memeriksa apakah infeksi bakteri H. pylori, yang merupakan faktor risiko kanker lambung yang sudah mapan, dapat menjelaskan hubungan tersebut, namun ditemukan bahwa hubungan antara kanker lambung dan asupan minuman berpemanis tambahan tidak terkait dengan infeksi H. pylori. Minuman yang dimaniskan secara buatan (seperti teh dan soda diet) tidak dikaitkan dengan risiko kanker lambung yang lebih tinggi. Selain itu, tim peneliti juga meneliti fruktosa sebagai pemanis utama dalam minuman, dan menemukan bahwa asupan fruktosa yang lebih tinggi dikaitkan secara positif dengan kanker lambung pada seluruh kelompok dan di antara wanita.
Para peneliti menggunakan dua studi kesehatan jangka panjang di Amerika Serikat, yaitu Nurses Health Study dan Health Professionals Follow-up Study, yang telah melacak pola makan dan kesehatan puluhan ribu warga Amerika selama beberapa dekade. Studi ini melibatkan 112.284 peserta dan mendokumentasikan 278 kasus kanker lambung. Peserta mengisi kuesioner frekuensi makanan terperinci setiap empat tahun, melaporkan seberapa sering mereka mengonsumsi minuman tertentu, serta menjawab pertanyaan tentang gaya hidup, riwayat medis, dan pembaruan kesehatan lainnya setiap dua tahun.
Minuman dikelompokkan menjadi dua kategori: minuman dengan pemanis tambahan (termasuk minuman berkarbonasi, punch, limun, dan minuman olahraga) dan minuman dengan pemanis buatan (termasuk minuman berkarbonasi rendah kalori). Asupan dikelompokkan dari kurang dari satu porsi per bulan hingga lebih dari satu porsi per hari, dengan ukuran porsi 8 ons. Analisis ini telah disesuaikan dengan faktor risiko kanker lambung lainnya yang diketahui, termasuk konsumsi daging merah dan daging olahan.
Meskipun demikian, para peneliti menyerukan penelitian lebih lanjut karena studi ini masih bersifat observasional. Peserta yang ikut sebagian besar adalah tenaga kesehatan kulit putih dengan rentang usia 30 hingga 75 tahun, sehingga sulit untuk memastikan apakah temuan ini berlaku untuk latar belakang ras, etnis, atau kelompok usia lain. Selain itu, meskipun diikuti lebih dari 100.000 partisipan, jumlah total kasus kanker lambung yang tercatat relatif kecil, yang dapat membuat perkiraan menjadi kurang tepat.
[Red/SKP]
















