ARAH Site milik TBS Energi Utama (dok. TBS Energi Utama). Sumber : IDN TIMES
JAKARTA (GLOBALSIAR) – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) berhasil memangkas rugi bersih hingga 83% pada semester I-2026, seiring dengan peralihan fokus bisnis dari batubara ke sektor non-batubara yang kini mendominasi struktur pendapatan perseroan.
Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis Jumat (28/8), pendapatan konsolidasi TOBA tercatat relatif stabil di angka US$173,01 juta, naik tipis dari US$172,21 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk menyusut signifikan menjadi US$19,65 juta, dibandingkan rugi US$115,61 juta pada semester I-2025.
Penurunan kerugian ini terutama disebabkan oleh tidak adanya rugi atas divestasi entitas anak yang pada semester I-2025 mencapai US$96,87 juta. Selain itu, laba kotor konsolidasi melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$28,2 juta dari US$13,9 juta, didorong oleh penurunan beban pokok pendapatan sebesar US$13,5 juta yang membuat margin kotor meningkat dari 8,1% menjadi 16,3%.
Perubahan paling signifikan terlihat pada struktur pendapatan. Kini, bisnis non-batubara—yang dipimpin oleh segmen pengelolaan limbah dan diikuti ekosistem kendaraan listrik—menyumbang 66,5% dari pendapatan konsolidasi, lebih dari dua kali lipat kontribusi bisnis batubara yang hanya 31,4% . Padahal setahun lalu, portofolio perseroan masih didominasi batubara.
Direktur dan Chief Financial Officer TBS, Juli Oktarina, menyatakan bahwa pergeseran ini bersifat struktural, bukan sekadar musiman. “Tahun lalu batubara masih jadi penyumbang utama pendapatan kami. Hari ini bisnis non-batubara kami dua kali lipat lebih besar, dan bisnis inilah yang menghasilkan kas. Inilah transisi yang kami janjikan,” ujarnya.
Segmen pengelolaan limbah menjadi penopang utama kinerja, dengan pendapatan naik 77,8% menjadi US$105,9 juta, menyumbang 61,2% pendapatan konsolidasi dan 92% EBITDA konsolidasi. Segmen ini dijalankan melalui Cora Environment dan Asia Medical Enviro Services di Singapura, serta ARAH Environmental di Indonesia.
Sementara itu, segmen kendaraan listrik melalui Electrum mencatat pertumbuhan pendapatan 184% menjadi US$9,1 juta, dengan laba kotor dan EBITDA yang berbalik positif . Ekosistem Electrum kini mencakup hampir 14.000 motor listrik dan 550 Battery Swapping Station, dengan lebih dari 1,7 juta penukaran baterai per bulan.
Dari sisi neraca, posisi kas TOBA mencapai US$94,7 juta per 30 Juni 2026, sementara utang bank jangka pendek turun 30,9% secara tahunan. Arus kas operasi juga berbalik positif menjadi US$14,6 juta, dari sebelumnya negatif US$31,6 juta.
[Red/Valda]
















