TEHERAN, GLOBALSIAR.COM (26 SEPTEMBER 2026) – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan sikap diplomatiknya untuk tidak mengadakan pertemuan dengan Donald Trump sebelum adanya langkah nyata dalam pemulihan kepercayaan antara Teheran dan Washington. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas dinamika politik internasional yang terus memanas, di mana Pezeshkian menekankan bahwa dialog tingkat tinggi memerlukan fondasi rasa percaya yang kuat yang selama ini telah terkikis secara signifikan.
Hubungan antara kedua negara tersebut mencapai titik terendah setelah Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) di bawah kepemimpinan Trump pada periode sebelumnya. Langkah tersebut diikuti dengan pengenaan kembali berbagai sanksi ekonomi yang berat terhadap Iran, yang oleh pemerintah Teheran dianggap sebagai bentuk pelanggaran terhadap komitmen internasional yang telah disepakati bersama.
Dalam keterangannya, Pezeshkian menggarisbawahi bahwa Iran tidak menutup pintu diplomasi sepenuhnya, namun mensyaratkan adanya itikad baik dan bukti konkret dari pihak Gedung Putih. Ia menuntut tindakan nyata yang menunjukkan bahwa Amerika Serikat siap menghormati kedaulatan serta kesepakatan yang ada, alih-alih hanya mengandalkan retorika politik tanpa dasar yang jelas di tengah situasi global yang tidak menentu.
Ketegangan ini diprediksi akan terus menjadi tantangan besar bagi stabilitas kawasan Timur Tengah dan keamanan global di masa mendatang. Hingga saat ini, posisi Iran tetap konsisten dalam menuntut penghapusan sanksi sebagai syarat awal dimulainya kembali pembicaraan yang substantif dan setara. Laporan mengenai dinamika hubungan luar negeri Iran ini disusun kembali oleh GlobalSiar.
















