JAKARTA, GLOBALSIAR.COM (12 SEPTEMBER 2026) – Peristiwa gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,5 yang berpusat di wilayah Kepulauan Seribu memicu tanda tanya publik setelah getarannya dilaporkan terasa hingga wilayah Yogyakarta dan Pulau Sumatra. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa fenomena ini terjadi akibat adanya aktivitas tektonik di dalam lempeng yang memicu rambatan gelombang seismik secara luas melintasi berbagai struktur geologi di bawah daratan Jawa.
Para pakar seismologi menjelaskan bahwa jangkauan getaran yang sangat luas ini disebabkan oleh karakteristik gempa dalam atau deep focus earthquake. Karena titik pusat gempa berada pada kedalaman ratusan kilometer di bawah permukaan laut, energi yang dilepaskan tidak cepat teredam oleh lapisan tanah permukaan yang lunak, melainkan merambat melalui batuan litosfer yang lebih padat dan kaku. Hal inilah yang memungkinkan gelombang tersebut menjangkau area yang sangat jauh dari episenter tanpa kehilangan kekuatan secara drastis.
Meskipun guncangan dirasakan di area yang sangat luas, dampak kerusakan yang ditimbulkan biasanya cenderung lebih minim dibandingkan dengan gempa dangkal berkekuatan serupa. Berdasarkan parameter intensitas, getaran yang dirasakan di Yogyakarta dan sebagian Sumatra berada pada skala II hingga III MMI, yang ditandai dengan getaran ringan yang dirasakan oleh orang di dalam rumah atau benda gantung yang bergoyang perlahan. BMKG memastikan tidak ada potensi tsunami yang timbul akibat aktivitas tektonik di kedalaman tersebut.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan selalu mengikuti perkembangan informasi melalui kanal resmi guna menghindari disinformasi mengenai potensi bencana susulan. Pemahaman mengenai karakteristik geologi wilayah Indonesia sangat penting agar warga dapat melakukan mitigasi secara mandiri dan tepat saat menghadapi fenomena alam serupa di masa mendatang. Laporan mendalam mengenai kejadian alam ini disusun kembali oleh tim redaksi GlobalSiar.












