SIKKA, GLOBALSIAR.COM (10 SEPTEMBER 2026) – Sebanyak 3.370 warga di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, terpaksa meninggalkan kediaman mereka untuk mencari perlindungan di lokasi pengungsian pascagempa bumi melanda kawasan tersebut. Data terbaru menunjukkan bahwa konsentrasi pengungsi terbesar berada di wilayah Pulau Palue, di mana ribuan penduduk memilih menjauh dari area pesisir guna mengantisipasi potensi bahaya susulan.
Langkah evakuasi ini diambil secara mandiri maupun dibantu oleh petugas berwenang seiring dengan meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap stabilitas bangunan rumah mereka. Tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat terus melakukan pendataan di lapangan untuk memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan akses ke tempat yang lebih aman. Meski belum ada laporan rinci mengenai kerusakan infrastruktur berat secara menyeluruh, mobilisasi massa tetap dilakukan sebagai tindakan preventif demi keselamatan warga.
Kondisi di Pulau Palue menjadi perhatian utama pemerintah daerah karena akses logistik yang cukup menantang ke wilayah kepulauan tersebut. Sebagian besar pengungsi saat ini mendirikan tenda-tenda darurat di titik-titik ketinggian untuk menghindari risiko gempa susulan yang masih mungkin terjadi. Koordinasi antar instansi terkait terus diperkuat guna memantau perkembangan situasi di lokasi pengungsian serta memastikan ketersediaan kebutuhan dasar bagi para korban terpenuhi dengan baik.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah kabupaten tengah berupaya menyalurkan bantuan darurat berupa logistik dan obat-obatan ke titik-titik kumpul warga di seluruh wilayah terdampak. Upaya pemulihan dan penanganan pascabencana menjadi prioritas utama untuk menjamin keselamatan warga di wilayah terdampak gempa Sikka. Seluruh rangkaian laporan peristiwa ini disusun kembali oleh GlobalSiar.












