
Seorang prajurit menaiki kendaraan angkut personel lapis baja di salah satu lokasi perang di Ukraina.
MOSKOW (GLOBALSIAR) – Negara-negara yang tergabung dalam Koalisi Sukarela menyatakan tekadnya untuk meningkatkan dukungan militer bagi Ukraina, dengan fokus utama pada penguatan sistem pertahanan udara negara tersebut. Pernyataan ini disampaikan setelah para anggota koalisi dan pemimpin Ukraina menggelar pertemuan di Kyiv pada Senin (24/8/2026), yang juga diikuti oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni melalui konferensi video.
Dalam pertemuan tersebut, dibahas masalah pasokan sistem pertahanan udara ke Ukraina, termasuk upaya memperkuat kemampuan negara itu menghadapi serangan rudal. Para pemimpin menyatakan tekad untuk meningkatkan dukungan militer, menjadikan penguatan pertahanan udara sebagai prioritas mendesak, serta meningkatkan kerja sama dengan industri pertahanan dan berbagi teknologi terkait, termasuk melalui Koalisi Antirudal Balistik. Namun, koalisi tidak merinci langkah-langkah lanjutan yang akan ditempuh untuk meningkatkan dukungan militer tersebut.
Sebelumnya, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada 1 Agustus 2026 mengakui bahwa sistem pertahanan udara negaranya tidak mampu mencegat rudal akibat kekurangan rudal Patriot. Kemudian pada 6 Agustus 2026, Wakil Ketua Komite Parlemen Ukraina untuk Keamanan Nasional, Pertahanan dan Intelijen, Yehor Cherniev, menyatakan bahwa kondisi sistem pertahanan udara Ukraina telah mencapai titik terburuk sejak konflik dimulai pada 2022.
Sementara itu, Rusia menilai pasokan senjata ke Ukraina menghambat penyelesaian konflik dan secara langsung melibatkan negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dalam perang. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov sebelumnya menyatakan bahwa setiap pengiriman yang memuat senjata untuk Ukraina akan menjadi sasaran yang sah bagi Rusia.
[Red/SKP]
















