JAKARTA, GLOBALSIAR.COM (12 OKTOBER 2026) – Fenomena kucing berwarna oranye atau yang populer dengan sebutan “kucing oren” ternyata memiliki landasan ilmiah yang sangat spesifik terkait struktur genetiknya. Warna bulu yang mencolok ini dihasilkan oleh pigmen bernama pheomelanin, zat serupa yang memberikan warna rambut merah pada manusia. Secara biologis, distribusi warna ini tidak terjadi secara acak, melainkan sangat bergantung pada kromosom seks yang diwariskan dari induk kepada anak kucing tersebut.
Penjelasan utama mengenai dominasi jantan pada kucing oranye terletak pada lokasi gen warna tersebut yang berada di kromosom X. Karena kucing jantan hanya memiliki satu kromosom X (skema XY), mereka hanya membutuhkan satu salinan gen oranye dari induknya untuk tampil dengan bulu berwarna jingga. Kondisi ini berbeda secara signifikan dengan kucing betina yang memiliki dua kromosom X (skema XX), di mana mereka memerlukan dua salinan gen oranye dari kedua induknya untuk menjadi kucing oranye sepenuhnya.
Akibat perbedaan mekanisme pewarisan sifat ini, statistik menunjukkan bahwa sekitar 80 persen dari populasi kucing oranye di seluruh dunia adalah jantan, sedangkan hanya 20 persen sisanya adalah betina. Jika seekor kucing betina hanya menerima satu gen oranye pada salah satu kromosom X-nya, ia kemungkinan besar akan lahir dengan pola warna campuran seperti tortoiseshell atau calico. Hal inilah yang menyebabkan keberadaan kucing oranye berjenis kelamin betina menjadi pemandangan yang relatif langka bagi para pecinta hewan.
Selain aspek warna, keunikan genetik ini sering kali dikaitkan dengan perilaku kucing yang dianggap lebih ekspresif dan berani, meskipun penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk membuktikan hubungan antara warna bulu dengan kepribadian secara menyeluruh. Pemahaman mendalam mengenai genetika kucing oranye memberikan perspektif baru bagi masyarakat dalam mengapresiasi keragaman biologis pada hewan peliharaan populer ini, sebagaimana disusun kembali oleh GlobalSiar.
















