Seorang ibu membacakan buku cerita untuk anaknya saat kegiatan Obrolan Literasi Membaca Nyaring (OBROLIN) di Balai Pemuda Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu. Acara yang diinisiasi Pemkot Surabaya bersama Bunda Literasi Rini Indriyani ini digelar guna menumbuhkan minat baca anak sejak usia dini. Sumber: (ANTARA/HO-Diskominfo Surabaya)
SURABAYA (GLOBALSIAR) – Sebuah buku anak dapat tinggal lama di rak tanpa pernah benar-benar disentuh, karena minat baca tidak tumbuh dari kepemilikan buku, melainkan dari kebiasaan yang dilakukan berulang. Di Kota Surabaya, Jawa Timur, upaya membangun kebiasaan itu diperluas dari ruang kelas ke keluarga melalui program “Cerita Ayah Eri dan Bunda Rini Itu Asyik” (Ceria) dan dorongan bagi orang tua untuk mengenalkan budaya membaca melalui mendongeng.
Langkah ini penting karena persoalan membaca anak tidak cukup dijawab dengan menambah jumlah buku. Tantangan sebenarnya adalah membuat buku hadir dalam kehidupan sehari-hari, seperti percakapan, permainan, atau kebiasaan sebelum tidur. Surabaya sebenarnya memiliki modal literasi yang besar, dengan 527 titik taman baca masyarakat (TBM), 571.883 eksemplar koleksi buku per Agustus 2025, sembilan mobil perpustakaan keliling, satu motor perpustakaan, dan rata-rata kunjungan perpustakaan 65.026 pengunjung. Di bidang pendidikan, Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kota Surabaya 2026 mencatat 83,36 persen satuan pendidikan jenjang SD pada 2025 mencapai standar kompetensi minimum literasi, dan pada jenjang SMP capaian itu mencapai 93,58 persen.
Angka tersebut memperlihatkan fondasi literasi sekolah yang relatif kuat, namun kemampuan membaca dan kegemaran membaca bukanlah hal yang sama. Anak dapat mampu memahami bacaan karena tuntutan pembelajaran, tetapi belum tentu memilih membaca ketika tidak ada tugas. Gambaran nasional menunjukkan pembangunan budaya baca masih menghadapi tantangan, dengan Perpustakaan Nasional mencatat Tingkat Kegemaran Membaca nasional 2025 sebesar 54,80, sedangkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat pada Maret 2026 berada di angka 40,6 dan masuk kategori rendah.
Data tersebut menunjukkan bahwa bertambahnya fasilitas belum otomatis menghasilkan kebiasaan membaca. Surabaya pernah mencatat Tingkat Kegemaran Membaca sebesar 80,3 pada 2023 dan menjadi yang tertinggi di Jawa Timur, namun capaian itu tidak boleh dipandang sebagai hasil akhir karena kebiasaan membaca dapat berubah mengikuti lingkungan dan pola hidup generasi. Tantangan lain datang dari gawai, di mana anak kini memperoleh cerita, video, permainan, dan informasi dalam satu perangkat, sehingga buku tidak hanya bersaing dengan buku lain, tetapi juga dengan arus perhatian digital yang jauh lebih cepat.
Karena itu, buku dan gawai tidak tepat dipertentangkan sebagai dua pilihan yang saling meniadakan. Yang lebih dibutuhkan adalah pendampingan keluarga agar teknologi digunakan secara sehat sekaligus tetap menyediakan ruang bagi bacaan. Program membaca nyaring yang dikembangkan Pemkot Surabaya sejak Februari 2026 mengarah pada kebutuhan tersebut, menjadikan suara orang tua, guru, dan pendamping sebagai jembatan bagi anak sebelum mampu membaca secara mandiri. Keluarga memiliki posisi yang tidak dapat digantikan perpustakaan, karena sekolah mengajarkan kemampuan membaca dan perpustakaan menyediakan bahan bacaan, tetapi rumah menentukan apakah membaca menjadi kebiasaan yang wajar atau dianggap sebagai pekerjaan tambahan. Anak yang melihat orang tuanya membaca memperoleh pengalaman berbeda dari anak yang hanya diminta membaca, dan waktu membaca bersama, membicarakan isi cerita, serta membiarkan anak memilih bacaan sesuai minat merupakan kebiasaan sederhana yang dapat membangun kedekatan dengan buku.
[Red/SKP]
















