MAROS, GLOBALSIAR.COM (24 OKTOBER 2026) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah Maros, Sulawesi Selatan, kini dilaporkan mengancam keberadaan situs sejarah tak ternilai, yakni lukisan gua tertua di dunia yang diperkirakan berusia 67.800 tahun. Kebakaran yang terjadi di kawasan karst tersebut menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan arkeolog dan pelestari budaya karena suhu panas ekstrem dapat memicu pengelupasan permukaan batuan tempat lukisan purba tersebut berada.
Tim dari Balai Pelestarian Kebudayaan telah dikerahkan ke lokasi untuk memantau kondisi situs Leang Karampuang dan sekitarnya guna memastikan dampak langsung dari api. Meskipun titik api belum mencapai bagian dalam gua, asap pekat dan panas yang terbawa angin dikhawatirkan dapat merusak pigmen alami yang digunakan manusia purba puluhan ribu tahun silam. Pengamanan intensif dilakukan dengan membuat sekat bakar di sekitar area sensitif agar api tidak merambat lebih jauh ke arah dinding gua.
Sejumlah ahli menekankan bahwa lukisan gua di Maros-Pangkep merupakan warisan dunia yang sangat rentan terhadap perubahan suhu lingkungan yang drastis. Fenomena El Nino yang memperpanjang musim kemarau di Sulawesi Selatan tahun ini menjadi faktor pemicu meluasnya kebakaran di lahan vegetasi kering sekitar pegunungan karst. Upaya pemadaman darurat terus diupayakan oleh petugas gabungan BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat setempat di bawah tantangan medan yang terjal.
Penyelamatan situs ini menjadi prioritas utama mengingat signifikansi sejarahnya yang membuktikan perkembangan kognitif manusia modern pertama di Asia Tenggara. Jika kerusakan terjadi, dunia kehilangan bukti arkeologis yang sangat vital bagi pemahaman sejarah peradaban manusia. Laporan mengenai ancaman kelestarian situs purbakala akibat karhutla ini disusun kembali oleh GlobalSiar sebagai upaya meningkatkan kesadaran publik akan perlindungan cagar budaya.

















