ACEH TENGAH, GLOBALSIAR.COM (1 SEPTEMBER 2026) – Masyarakat di Kabupaten Aceh Tengah kini tengah menghadapi tekanan ekonomi menyusul kelangkaan pasokan gas Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi ukuran 3 kilogram. Situasi sulit ini diperparah dengan melonjaknya harga jual di tingkat pengecer yang kini mencapai angka Rp 35.000 per tabung, sebuah nilai yang sangat jauh melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah setempat.
Kondisi kelangkaan ini dilaporkan telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir, memaksa warga untuk mencari stok gas hingga ke desa-desa tetangga. Banyak konsumen, terutama ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro, mengeluhkan sulitnya mendapatkan tabung gas melon tersebut di pangkalan resmi, sehingga mereka terpaksa membeli di kios-kios kecil dengan harga yang tidak terkendali demi memenuhi kebutuhan memasak sehari-hari.
Dampak dari melambungnya harga gas subsidi ini mulai dirasakan secara nyata oleh para pedagang makanan skala kecil di Aceh Tengah yang sangat bergantung pada bahan bakar tersebut. Mereka menyatakan bahwa kenaikan biaya operasional ini mengancam keberlangsungan usaha mereka, sementara masyarakat umum berharap adanya langkah konkret dari pihak berwenang untuk mengusut penyebab pasti kelangkaan dan menstabilkan kembali distribusi di lapangan.
Hingga saat ini, warga terus mendesak pemerintah daerah dan instansi terkait untuk meningkatkan pengawasan terhadap rantai distribusi LPG 3 kg agar tepat sasaran dan tidak dipermainkan oleh spekulan. Penertiban di tingkat pangkalan hingga pengecer dipandang sangat mendesak dilakukan guna mengakhiri krisis energi yang membebani masyarakat berpenghasilan rendah di wilayah tersebut, laporan ini disusun kembali oleh GlobalSiar.
















