Bebas Penjara, Indra Kenz Mengaku Kini Tak Punya Rumah Lagi Polisi Belum Temukan Unsur Pidana Terkait Kasus Kematian Sutrimo Aksi Perampokan di Karawang: Uang Rp 1,3 Miliar Milik WNA Raib Dibawa Kabur Komplotan BNPB Ungkap Karhutla di 6 Provinsi Prioritas Menurun Drastis, Tersisa 96 Hektar Aparat Bubarkan Aksi Pengibaran Bendera Bintang Kejora di Kampus USTJ Jayapura Aktivitas Tambang Ilegal di Sangihe Diduga Keruk Emas Senilai Rp 200 Miliar

Headline

Studi Ungkap 12 Triliun Ton Es Greenland dan Antarktika Lenyap

badge-check


					(Unsplash/Martin Sanchez) Perbesar

(Unsplash/Martin Sanchez)

JAKARTA, GLOBALSIAR.COM (23 September 2026) – Sebuah kolaborasi penelitian internasional yang melibatkan 58 ilmuwan terkemuka baru saja merilis temuan mengkhawatirkan mengenai kondisi kutub Bumi. Melalui analisis data satelit selama hampir lima dekade, terungkap bahwa lapisan es di Greenland dan Antarktika telah menyusut sebanyak lebih dari 12 triliun ton sejak tahun 1979. Fenomena ini menandakan percepatan krisis iklim yang secara langsung mengancam keseimbangan ekosistem global.

Para peneliti dalam laporan yang diterbitkan di jurnal Scientific Data menjelaskan bahwa mayoritas kehilangan massa es tersebut, yakni sekitar 84 persen, disebabkan oleh perubahan dinamika gletser yang dipicu oleh pemanasan suhu laut. Alih-alih mencair di permukaan akibat suhu udara, lapisan es ini justru tergerus dari bawah dan samping oleh air laut yang semakin hangat. Greenland tercatat menyumbang sekitar 60 persen dari total kehilangan es, sementara Antarktika menyumbang 40 persen sisanya, sebuah angka yang sangat signifikan mengingat perbedaan luas kedua wilayah tersebut.

Dampak dari lenyapnya triliunan ton es ini telah memicu kenaikan permukaan air laut global hingga 3,1 sentimeter dalam kurun waktu 47 tahun terakhir. Meskipun angka tersebut terlihat kecil secara angka, para ahli memperingatkan bahwa setiap kenaikan satu sentimeter permukaan laut berpotensi menempatkan dua hingga tiga juta orang tambahan dalam risiko banjir pesisir tahunan. Kondisi ini menjadi sinyal merah bagi kota-kota besar di pinggir pantai dan wilayah kepulauan rendah di seluruh dunia yang kini menghadapi ancaman abrasi serta banjir rob yang lebih parah.

Keakuratan data ini didukung oleh penggunaan 27 misi satelit berbeda yang memberikan gambaran paling komprehensif mengenai perubahan volume es sepanjang sejarah pengamatan manusia. Para ilmuwan menekankan bahwa tren jangka panjang ini tidak akan berhenti jika emisi gas rumah kaca tidak segera dikendalikan secara masif. Laporan mendalam mengenai penyusutan drastis lapisan es kutub ini disusun kembali dan ditulis ulang oleh GlobalSiar.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bebas Penjara, Indra Kenz Mengaku Kini Tak Punya Rumah Lagi

30 September 2026 - 23:06 WIB

Polisi Belum Temukan Unsur Pidana Terkait Kasus Kematian Sutrimo

30 September 2026 - 23:03 WIB

Aksi Perampokan di Karawang: Uang Rp 1,3 Miliar Milik WNA Raib Dibawa Kabur Komplotan

30 September 2026 - 23:00 WIB

BNPB Ungkap Karhutla di 6 Provinsi Prioritas Menurun Drastis, Tersisa 96 Hektar

30 September 2026 - 20:03 WIB

Aparat Bubarkan Aksi Pengibaran Bendera Bintang Kejora di Kampus USTJ Jayapura

30 September 2026 - 20:00 WIB

Trending di Headline