bendera Australia Sumber: (pexels.com/Hugo Heimendinger)
JAKARTA (GLOBALSIAR) – Pemerintah Australia mengumumkan penyaluran bantuan kemanusiaan senilai 3,6 juta dolar AS (sekitar Rp63,8 miliar) untuk para korban bencana banjir bandang di Nepal. Bantuan tersebut akan digunakan untuk penyediaan makanan, tempat penampungan darurat, air bersih, dan sanitasi. Selain itu, Australia juga mengerahkan staf konsuler tambahan untuk membantu warganya yang terdampak.
Bencana banjir bandang yang dipicu runtuhnya gletser di perbatasan Nepal-China ini telah menewaskan sedikitnya 359 orang. Hampir 1.000 orang lainnya dilaporkan hilang, dengan setengah dari korban jiwa merupakan warga negara asing. Kementerian Luar Negeri Australia menyatakan, hancurnya jalan dan jembatan menyebabkan banyak masyarakat terisolasi dan sulit dijangkau, sehingga bantuan kemanusiaan yang cepat sangat dibutuhkan.
Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, mengungkapkan bahwa sedikitnya 39 warga Australia masih hilang di Nepal, meningkat dari 35 orang yang dilaporkan sehari sebelumnya. Jumlah tersebut dikhawatirkan akan terus bertambah. Di antara mereka yang hilang terdapat dua anak laki-laki berusia 11 dan 14 tahun yang bepergian bersama orang tua mereka. Mereka merupakan bagian dari 15 warga Australia dalam rombongan tur berjumlah 47 orang yang diselenggarakan oleh Himalayan Glaciers US, yang hingga kini seluruhnya belum diketahui keberadaannya.
Selain warga Australia, sejumlah negara lain juga melaporkan warganya hilang. Menurut Dewan Pariwisata Nepal dan pemerintah China, sedikitnya 517 warga asing dilaporkan hilang di Nepal dan 260 lainnya hilang di China. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) melaporkan 90 warganya masih hilang, sementara Malaysia menyebut 55 warganya tidak dapat dihubungi. Sedikitnya 30 warga negara dan penduduk tetap Kanada di Nepal dan wilayah Tibet juga masih hilang, begitu pula 56 warga Ukraina. Swedia dan Prancis juga melaporkan warganya hilang atau tidak dapat dihubungi.
Operasi pencarian dan penyelamatan menghadapi kendala besar akibat kondisi pascabanjir. Gangguan komunikasi, pemadaman listrik, dan keterbatasan sumber daya menghambat upaya tim di lapangan. Jalan-jalan menuju wilayah terdampak dipenuhi lumpur tebal dan puing-puing, sehingga tim bantuan kesulitan mencapai lokasi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengirimkan tim tanggap darurat ke Nepal dan mengalokasikan dana sebesar 2 juta dolar AS (sekitar Rp35,4 miliar) untuk bantuan air bersih, perlengkapan medis, dan tempat penampungan darurat selama tiga bulan. Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Kemanusiaan, Tom Fletcher, menyatakan bahwa sebagian besar akses jalan menuju wilayah terdampak telah hancur, sehingga pihaknya terpaksa menggunakan seluruh sarana transportasi udara untuk menjangkau para korban.
[Red/Rizqika]
















