GlobalSiar.com – Jerman gagal meraih kursi tidak tetap di Dewan Keamanan PBB. Pemungutan suara berlangsung pada Rabu (3/6/2026). Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi diplomasi Jerman. Menteri Luar Negeri Johann Wadephul menyebut hasil ini sebagai “kekecewaan besar”.
Dua Kursi Direbut Austria dan Portugal
Jerman bersaing di wilayah “Eropa Barat dan Lainnya”. Dua kursi tersedia untuk wilayah tersebut. Sayangnya, Jerman harus mengakui keunggulan Austria dan Portugal.
Portugal meraih 134 suara. Austria mendapatkan 131 suara. Jerman hanya mengumpulkan 104 suara. Jumlah ini tidak cukup untuk lolos.
Untuk mendapatkan kursi tidak tetap, Jerman membutuhkan dukungan dua pertiga suara dari Majelis Umum PBB. Majelis ini beranggotakan 193 negara. Dewan Keamanan PBB sendiri hanya diisi 15 negara.
Rusia Dibalik Kegagalan Jerman?
Jurnalis DW, Benjamin Alvarez Gruber, mengungkap fakta menarik. Rusia menjalankan kampanye lobi intensif. Mereka berusaha menggagalkan pencalonan Jerman.
Mengapa Rusia melakukan itu? Hubungan kedua negara sedang memburuk. Jerman menjadi salah satu pendukung utama Ukraina. Dukungan itu diberikan dalam menghadapi invasi Rusia yang masih berlangsung.
Jerman Penyumbang Dana Terbesar Kedua, Tetap Gagal
Kementerian Luar Negeri Jerman sempat mengklaim posisi mereka. Jerman merupakan penyumbang dana terbesar kedua untuk PBB. Sebelum pemungutan suara, Wadephul menyatakan Jerman memiliki “tawaran yang kuat”.
Ia juga mendorong reformasi Dewan Keamanan PBB. Menurutnya, negara-negara Global South perlu mendapat peran lebih besar.
Negara Lain yang Berhasil Raih Kursi
Selain Austria dan Portugal, beberapa negara lain juga berhasil. Zimbabwe dan Trinidad dan Tobago terpilih tanpa lawan. Mereka memperebutkan kursi untuk kawasan Afrika.
Kirgistan, negara di Asia Tengah, juga terpilih. Kirgistan mengalahkan Filipina dalam pemungutan suara.
Tanggapan Kanselir Jerman Friedrich Merz
Kanselir Jerman Friedrich Merz angkat bicara setelah kekalahan ini. “Kami mengajukan diri dengan keyakinan. Namun, kami tidak berhasil mencapai tujuan itu,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan kekecewaan mendalam pemerintah Jerman.










