JAKARTA, GLOBALSIAR.COM (31 OKTOBER 2026) – Sisprian, seorang pejabat senior di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, mengungkapkan penyesalan mendalam karena telah mencoreng reputasi instansi tempatnya bernaung selama tiga dekade terakhir. Dalam pernyataan resminya, ia mengakui bahwa situasi hukum yang dihadapinya saat ini memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap citra lembaga, meskipun ia telah mendedikasikan sebagian besar masa hidupnya sebagai aparatur sipil negara.
Selama kurun waktu 30 tahun pengabdiannya, Sisprian mengklaim telah berusaha menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan regulasi yang berlaku. Namun, keterlibatannya dalam pusaran kasus hukum ini menjadi titik kelam yang sangat ia sesali, mengingat hubungan panjang dan dedikasi yang telah ia bangun bersama institusi Bea Cukai sejak awal masa kariernya hingga mencapai posisi strategis.
Meskipun mengakui adanya beban moral terhadap instansi, Sisprian secara tegas memberikan klarifikasi serta bantahan terhadap sejumlah poin dalam dakwaan yang dialamatkan kepadanya. Ia menekankan bahwa terdapat beberapa fakta hukum yang menurut versinya tidak sesuai dengan realitas di lapangan, sehingga ia berharap proses persidangan dapat mengungkap kebenaran secara objektif dan adil.
Proses hukum ini kini tengah memasuki babak pembuktian untuk mendalami lebih jauh peran serta keterkaitan Sisprian dalam dugaan pelanggaran yang terjadi. Kasus ini sekaligus menjadi sorotan publik mengenai pentingnya penguatan integritas di jajaran birokrasi pemerintahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.
Majelis hakim diharapkan dapat mempertimbangkan masa pengabdian panjang sang pejabat dalam memutus perkara ini, sembari tetap menjunjung tinggi prinsip keadilan hukum yang berlaku di Indonesia. Hingga saat ini, persidangan masih terus bergulir dengan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi kunci lainnya, lapor GlobalSiar.















