SOLO, GLOBALSIAR.COM (12/09/2026) – Dato’ Sri Tahir, pendiri Mayapada Group, mengungkapkan keheranannya terkait kendala administratif dalam proses pembangunan Tahir Solo Museum yang rencananya akan dihibahkan kepada Pemerintah Kota Surakarta. Meskipun proyek prestisius ini sepenuhnya dibiayai secara pribadi sebagai bentuk kontribusi bagi masyarakat, Tahir mempertanyakan munculnya tagihan-tagihan tertentu di tengah niat tulusnya untuk menyerahkan aset tersebut kepada negara.
Proyek museum yang terletak di jantung Kota Solo ini diperkirakan menelan biaya investasi mencapai Rp 600 miliar. Sejak awal, Tahir menegaskan bahwa tujuannya membangun fasilitas tersebut murni untuk kepentingan publik dan pengembangan sektor pariwisata serta edukasi di wilayah Solo Raya. Seluruh bangunan beserta koleksi di dalamnya dijadwalkan akan diserahkan secara cuma-cuma tanpa ada tendensi komersial dari pihak keluarga maupun perusahaan.
Dalam pernyataannya, tokoh filantropi ini merasa regulasi yang ada saat ini justru memberikan beban tambahan bagi pihak yang ingin berdonasi. Ia menilai seharusnya ada skema yang lebih mempermudah proses hibah besar seperti ini, mengingat nilai manfaat yang akan diterima oleh pemerintah daerah jauh melampaui biaya administratif yang dipersoalkan. Tahir mengharapkan adanya kebijakan yang lebih mendukung bagi para donatur yang ingin berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur sosial.
Pihak Pemerintah Kota Surakarta sendiri masih melakukan koordinasi internal untuk menanggapi keluhan tersebut dan mencari jalan tengah yang sesuai dengan aturan perundang-undangan. Kehadiran museum ini diharapkan dapat menjadi magnet baru bagi wisatawan mancanegara serta memperkuat identitas budaya Kota Solo di kancah internasional. Laporan ini disusun kembali oleh GlobalSiar berdasarkan fakta-fakta yang berkembang di lokasi.












