Tentara Israel di Tepi Barat Sumber: (wikimedia/IDF Spokesperson’s Unit)
JAKARTA (GLOBALSIAR) Panglima Militer Israel (IDF), Letnan Jenderal Eyal Zamir, memerintahkan penambahan pasukan besar-besaran di Tepi Barat pada Kamis (27/8/2026). Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi peningkatan ketegangan dan menyambut periode hari raya Yahudi yang akan jatuh pada September mendatang.
Keputusan ini mencakup kesiapan markas divisi tambahan untuk penempatan darurat di seluruh wilayah pendudukan. Zamir menegaskan bahwa militer Israel akan tetap siaga tempur di berbagai front. “Mengingat ketegangan di Tepi Barat dan periode liburan yang akan datang, saya memerintahkan peningkatan kesiapan markas divisi tambahan untuk memperkuat pasukan di area tersebut,” ujar Zamir, dikutip dari The Times of Israel.
Saat ini, Tepi Barat berada di bawah pengawasan Divisi Yudea dan Samaria serta Divisi ke-96 Gilad di perbatasan Yordania. Dengan adanya instruksi baru, satu divisi militer reguler yang biasanya terdiri dari puluhan ribu tentara telah disiapkan, bersama dengan unit dan batalion khusus. Jumlah batalion tentara Israel yang bertugas di Tepi Barat pun meningkat menjadi 26 batalion, termasuk relokasi Brigade Pasukan Terjun Payung yang baru menyelesaikan tugas tiga bulan di Jalur Gaza.
Pengerahan pasukan tambahan ini terjadi seiring dengan meluasnya operasi militer Israel. Dalam sebuah insiden, pasukan Israel dilaporkan menembaki kendaraan warga sipil saat menyerbu kota Al-Karmel, selatan Hebron. Peristiwa ini melukai tiga perempuan Palestina, termasuk seorang anak berusia 14 tahun. Petugas Bulan Sabit Merah Palestina dikerahkan untuk memberikan pertolongan medis. “Pasukan pendudukan menembaki kendaraan warga dan menyerbu permukiman hingga melukai warga sipil di selatan Hebron,” tutur perwakilan kantor berita lokal, dilansir Anadolu Agency.
Selain penembakan, tentara Israel juga dilaporkan menggeledah rumah-rumah penduduk dan mengubah sejumlah bangunan menjadi pos militer sementara, seperti yang terjadi di Awarta, Nablus.
Situasi keamanan di Tepi Barat juga diperburuk oleh aksi kekerasan kelompok pemukim Yahudi. Di kawasan Masafer Yatta, pemukim terekam menjarah barang dari rumah warga Palestina. Sementara itu, di jalur utama Kisan, timur Bethlehem, pemukim melempari mobil warga dengan batu hingga melukai seorang pengemudi bernama Ziad Saeed Ghazal. Selain itu, otoritas Israel dilaporkan menyita tanah warga Palestina di dekat Al-Bireh yang memutus akses ke lahan pertanian seluas lebih dari 38 hektare, dan kelompok pemukim terus mendirikan permukiman liar di bawah perlindungan tentara. Agresi yang terus berulang ini telah mendorong negara-negara seperti Inggris dan Uni Eropa (UE) untuk mengkaji sanksi tambahan terhadap pemukim ilegal.
[Red/Rizqika]















