SURABAYA, GLOBALSIAR.COM (20/10/2026) – Kasus perundungan yang menimpa seorang anak penyandang disabilitas di Surabaya telah memicu perhatian publik secara luas. Insiden memprihatinkan ini menyoroti kerentanan kelompok anak berkebutuhan khusus terhadap kekerasan fisik maupun verbal di lingkungan sosial mereka. Menanggapi fenomena tersebut, pakar psikologi memberikan analisis mendalam mengenai latar belakang perilaku negatif yang dilakukan oleh para pelaku perundungan.
Terdapat empat faktor utama yang diidentifikasi sebagai pemicu terjadinya aksi bullying terhadap anak disabilitas. Faktor pertama berkaitan dengan kurangnya edukasi dan pemahaman empati pada anak-anak sejak dini mengenai perbedaan fisik maupun mental. Ketidaktahuan ini sering kali berubah menjadi sikap meremehkan atau merasa lebih superior di depan kawan-kawannya yang dianggap memiliki keterbatasan fisik atau kognitif.
Selain kurangnya empati, pola asuh di lingkungan keluarga dan pengaruh konsumsi konten media sosial yang tidak sehat juga menjadi variabel penentu. Anak-anak yang terpapar kekerasan di rumah atau melalui gawai cenderung meniru perilaku agresif tersebut kepada teman yang mereka anggap lebih lemah. Psikolog menekankan bahwa peran orang tua sangat krusial dalam memberikan filter terhadap informasi serta memberikan teladan perilaku inklusif di lingkungan rumah tangga.
Lingkungan sekolah yang kurang ketat dalam pengawasan serta lemahnya sanksi sosial turut memperburuk situasi bagi korban disabilitas di ruang publik. Diperlukan langkah preventif yang komprehensif mulai dari kebijakan sekolah yang tegas hingga pendampingan psikologis bagi pelaku agar mata rantai kekerasan ini dapat diputus secara tuntas. Demikian laporan ini disusun kembali oleh GlobalSiar.
















