JAKARTA, GLOBALSIAR.COM (20 OKTOBER 2026) – Ketimpangan pembangunan infrastruktur di tanah air memicu kritik tajam seiring munculnya potret memprihatinkan dari wilayah perbatasan. Para pengamat menekankan adanya kontras yang sangat mencolok antara kemegahan proyek kereta cepat dengan realitas pahit yang dihadapi anak-anak di daerah terpencil yang harus mempertaruhkan keselamatan nyawa setiap hari hanya untuk menjangkau fasilitas pendidikan dasar.
Kondisi aksesibilitas yang buruk di wilayah terluar menunjukkan bahwa prioritas pembangunan nasional perlu segera dievaluasi demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Di saat anggaran negara dialokasikan secara besar-besaran untuk moda transportasi modern di pusat pertumbuhan, infrastruktur penunjang kehidupan di perbatasan seperti jembatan penyeberangan sekolah justru terbengkalai. Hal ini dinilai mencederai semangat pemerataan ekonomi yang sering didengungkan pemerintah.
Para ahli menyarankan agar pemerintah melakukan audit prioritas terhadap proyek-proyek strategis nasional yang sedang berjalan. Proyek kereta cepat dianggap sebagai kemewahan yang belum mendesak jika dibandingkan dengan kebutuhan mendasar masyarakat di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Pembangunan jembatan dan jalan desa yang layak seharusnya menjadi fondasi utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah periferi sebelum mengejar target prestisius di kota besar.
Tanpa adanya intervensi serius untuk memperbaiki konektivitas dasar di wilayah perbatasan, jurang kesenjangan sosial akan semakin sulit untuk dijembatani. Pemerintah didesak untuk tidak menutup mata terhadap risiko fisik yang dihadapi generasi penerus bangsa akibat minimnya fasilitas publik yang aman. Laporan mendalam mengenai urgensi pemerataan pembangunan ini disusun kembali dan dianalisis oleh GlobalSiar.















