JAKARTA, GLOBALSIAR.COM (17 OKTOBER 2026) – Estimasi total kerugian ekonomi yang dipicu oleh bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sepanjang tahun 2026 diproyeksikan menyentuh angka fantastis sebesar Rp 167 triliun. Dampak finansial ini tidak hanya mencakup kerusakan fisik pada lahan dan hutan, tetapi juga akumulasi dari penghentian aktivitas bisnis serta biaya operasional pemadaman yang sangat besar di berbagai wilayah terdampak.
Sektor transportasi udara dan industri pariwisata menjadi lini yang paling menderita akibat kabut asap yang menyelimuti banyak daerah, menyebabkan pembatalan jadwal penerbangan secara massal dan penurunan drastis jumlah kunjungan wisatawan. Selain itu, produktivitas sektor pertanian dan perkebunan ikut merosot tajam karena rusaknya ekosistem lahan serta terhambatnya arus distribusi logistik menuju pasar domestik maupun internasional.
Beban ekonomi juga semakin berat seiring dengan melonjaknya biaya kesehatan masyarakat akibat paparan asap yang memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Pemerintah saat ini tengah berfokus pada percepatan penanggulangan di lapangan serta pengalokasian dana darurat guna memitigasi dampak sosial-ekonomi yang lebih luas agar tidak semakin membebani pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal akhir tahun ini.
Skala kerugian pada tahun 2026 ini menjadi pengingat serius bagi seluruh pemangku kepentingan mengenai pentingnya penguatan sistem deteksi dini dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan. Penataan ulang tata kelola lahan gambut dan koordinasi lintas lembaga menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko bencana serupa di masa depan agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.
Sebagai perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya, angka kerugian kali ini menunjukkan eskalasi yang signifikan akibat faktor cuaca ekstrem dan perluasan titik api di beberapa provinsi kunci. Evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pencegahan karhutla dipandang sangat mendesak demi melindungi aset lingkungan sekaligus menjamin keberlangsungan roda ekonomi daerah, sebagaimana dirangkum oleh GlobalSiar.

















