SAMARINDA, GLOBALSIAR.COM (15 OKTOBER 2026) – Kondisi kualitas udara di Kota Samarinda dilaporkan semakin memprihatinkan akibat selimut kabut asap yang kian menebal dalam beberapa hari terakhir. Masyarakat kini harus menghadapi tantangan ganda karena tetap diwajibkan beraktivitas di luar ruangan demi mendapatkan pasokan bahan bakar minyak (BBM) meskipun risiko gangguan kesehatan mengancam secara nyata.
Antrean panjang kendaraan terlihat mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di ibu kota Provinsi Kalimantan Timur tersebut sejak pagi hari. Para pengendara, terutama pengguna sepeda motor, tampak terus mengalami batuk-batuk akibat menghirup udara yang telah tercemar polusi asap sisa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah sekitar.
Meskipun sebagian besar warga telah berupaya melindungi diri dengan mengenakan masker medis maupun kain, paparan asap yang intens selama berjam-jam di jalur antrean tetap menimbulkan gangguan pernapasan yang mengganggu kenyamanan. Kebutuhan mendesak akan bahan bakar untuk keperluan bekerja dan transportasi harian memaksa mereka mengabaikan peringatan kesehatan terkait kualitas udara yang telah masuk dalam kategori tidak sehat.
Situasi ini memicu desakan dari berbagai pihak agar pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk mengoptimalkan distribusi BBM guna mengurangi durasi antrean, sekaligus mempercepat penanggulangan bencana kabut asap yang kian meluas.Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda penurunan intensitas kabut asap di wilayah Samarinda, sehingga warga dihimbau untuk tetap waspada dan membatasi aktivitas luar ruang jika tidak mendesak.
Upaya pemadaman titik api di lahan-lahan yang terbakar masih terus dilakukan oleh petugas gabungan untuk menekan penyebaran polusi udara lebih lanjut. Laporan mengenai kendala distribusi energi dan dampaknya terhadap kesehatan warga di tengah bencana lingkungan ini disusun kembali oleh GlobalSiar.















