JAKARTA, GLOBALSIAR.COM (14/10/2026) – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), memberikan refleksi mendalam mengenai pengalamannya memimpin bangsa selama dua periode. Beliau mengenang dinamika unjuk rasa yang mewarnai sepuluh tahun masa jabatannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan demokrasi. SBY menekankan bahwa mendengarkan aspirasi publik adalah elemen krusial bagi setiap pemimpin untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan masyarakat.
Dalam pernyataan tersebut, SBY mengungkapkan kesadarannya bahwa tanpa kemauan untuk mendengar suara rakyat, seorang pemimpin sangat rentan untuk kehilangan legitimasi. Beliau mengakui bahwa gelombang protes yang terjadi di masa lalu merupakan bentuk pengingat nyata agar kebijakan pemerintah tetap berpihak pada kepentingan orang banyak. Baginya, kritik dari massa adalah navigasi penting yang mencegah kekuasaan melenceng dari mandat yang telah diberikan.
Lebih lanjut, SBY menjelaskan bahwa posisi presiden bukanlah jabatan yang kebal dari koreksi. Ia berpandangan bahwa jika seorang pemimpin mengabaikan tuntutan rakyat secara terus-menerus, maka potensi untuk jatuh dari kursi kepemimpinan akan menjadi ancaman yang nyata. Oleh karena itu, keterbukaan terhadap dialog dan penerimaan terhadap unjuk rasa dipandang sebagai bentuk kematangan dalam berpolitik dan menjaga keutuhan negara.
Pesan ini menjadi pengingat bagi para pemangku kebijakan masa kini tentang esensi kepemimpinan yang inklusif dan responsif terhadap dinamika sosial. SBY berharap nilai-nilai demokrasi ini terus dijunjung tinggi demi kemajuan Indonesia di masa depan.Informasi ini menyoroti bagaimana kedewasaan politik dalam menghadapi demonstrasi dapat menjadi kunci keberlangsungan sebuah pemerintahan yang stabil dan demokratis. Laporan ini disusun kembali oleh GlobalSiar.













