WASHINGTON, GLOBALSIAR.COM (13 OKTOBER 2026) – Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan keyakinannya bahwa China dan Rusia tidak akan memberikan bantuan militer atau dukungan strategis yang signifikan kepada Iran jika negara tersebut terlibat dalam konflik besar. Trump menilai bahwa baik Beijing maupun Moskow memiliki terlalu banyak kepentingan ekonomi dan stabilitas domestik yang dipertaruhkan untuk bisa terseret lebih jauh ke dalam krisis di kawasan Timur Tengah. Pernyataan ini muncul sebagai bagian dari analisis tajamnya terhadap peta kekuatan global saat ini.
Menurut Trump, China sebagai kekuatan ekonomi dunia sangat bergantung pada kelancaran arus perdagangan internasional yang bisa terganggu jika mereka terlibat langsung dalam konflik pertahanan bersama Teheran. Di sisi lain, Rusia yang saat ini masih menghadapi berbagai tantangan internasional juga dianggap akan berpikir dua kali sebelum mengalokasikan sumber daya militer mereka untuk membantu Iran secara terbuka. Ia menegaskan bahwa para pemimpin kedua negara tersebut adalah sosok yang sangat pragmatis dalam menghitung kerugian nasional mereka.
Trump juga menggarisbawahi bahwa hubungan antara Iran dengan China dan Rusia lebih bersifat transaksional daripada aliansi pertahanan yang mengikat secara emosional. Ia mengklaim bahwa meskipun sering terlihat bekerja sama dalam forum diplomatik, kedua negara adidaya tersebut tidak akan mau menanggung beban sanksi tambahan atau isolasi lebih lanjut dari komunitas internasional demi melindungi kepentingan rezim di Teheran. Hal ini dipandang sebagai titik lemah Iran dalam menghadapi tekanan dari blok Barat.
Analisis ini memberikan perspektif baru mengenai dinamika geopolitik di Timur Tengah, di mana ketergantungan Iran terhadap poros Timur mungkin tidak sekuat yang dibayangkan sebelumnya. Trump meyakini bahwa posisi Amerika Serikat akan tetap dominan jika mampu memanfaatkan celah keraguan antara Iran dan para mitra strategisnya tersebut.
Sebagai penutup, Trump menekankan perlunya kewaspadaan terhadap setiap pergeseran kebijakan dari Beijing dan Moskow, namun tetap berpegang pada keyakinan bahwa kepentingan nasional masing-masing negara akan selalu menjadi prioritas utama di atas solidaritas antar-negara yang dianggap bermasalah. Dinamika ini diperkirakan akan terus menjadi pusat perhatian dalam diskursus keamanan global dalam beberapa waktu ke depan. Informasi komprehensif ini dikelola dan diterbitkan kembali oleh GlobalSiar.
















