Zhoumi Super Junior-M Ditunjuk sebagai CEO Perusahaan Gabungan SM-TME Mengintip Replika Tembok Konstantinopel di Balik Layar Serial Mehmed: Fetihler Sultanı Undertale: The Determination Symphony Hadir di Jakarta 11 Oktober 2026 Ekonom: Kerja Sama Indonesia-Rusia Positif untuk Perluasan Ekspor Vicky Shu Akui Hobi Berdagang, Tak Gengsi Cari Job hingga Jualan di Media Sosial IU Siap Rilis Karya Baru pada September 2026, Rilis Video Teaser

Headline

Rupiah Menguat Tajam Pagi Ini Seiring Meningkatnya Ekspektasi Pelemahan Dolar AS

badge-check


					Rupiah Menguat Tajam Pagi Ini Seiring Meningkatnya Ekspektasi Pelemahan Dolar AS Perbesar

JAKARTA, GLOBALSIAR.COM (6 SEPTEMBER 2024) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan performa impresif pada pembukaan perdagangan di hari Jumat. Mata uang Garuda terpantau mengalami kenaikan signifikan sebesar 44 poin atau setara dengan 0,28 persen, yang membawa posisinya ke level Rp15.535 per dolar AS dari penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di angka Rp15.579 per dolar AS.

Penguatan nilai tukar domestik ini didorong oleh sentimen pasar yang mengantisipasi pelemahan lebih lanjut pada indeks dolar AS. Analis pasar uang, Ariston Tjendra, mengungkapkan bahwa kondisi ini dipicu oleh rilis data tenaga kerja sektor swasta AS versi ADP yang berada di bawah ekspektasi pasar, yakni hanya mencatat penambahan 99 ribu lapangan kerja dari proyeksi awal sebesar 144 ribu.

Data tenaga kerja yang melandai tersebut memperkuat spekulasi di kalangan pelaku pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), kemungkinan besar akan mengambil kebijakan moneter yang lebih longgar. Probabilitas pemangkasan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada pertemuan bulan September mendatang kini menjadi fokus utama, sembari menunggu rilis data Non-Farm Payroll (NFP) dan tingkat pengangguran AS yang dijadwalkan keluar nanti malam.

Untuk pergerakan sepanjang hari ini, rupiah diprediksi akan bergerak stabil dengan potensi penguatan di kisaran Rp15.500 hingga Rp15.630 per dolar AS. Dinamika ekonomi global dan kebijakan suku bunga di Amerika Serikat masih menjadi faktor kunci yang memengaruhi volatilitas pasar valuta asing di kawasan Asia. Laporan ini disusun kembali oleh GlobalSiar.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Zhoumi Super Junior-M Ditunjuk sebagai CEO Perusahaan Gabungan SM-TME

6 September 2026 - 07:00 WIB

Undertale: The Determination Symphony Hadir di Jakarta 11 Oktober 2026

5 September 2026 - 07:00 WIB

Ekonom: Kerja Sama Indonesia-Rusia Positif untuk Perluasan Ekspor

5 September 2026 - 03:00 WIB

Danantara Dorong Transformasi Menyeluruh Rumah Sakit BUMN di Bawah IHC

4 September 2026 - 20:03 WIB

Pertamina NRE Dorong Pengembangan Biofuel, Hidrogen, hingga Konservasi Lewat Enam Kesepakatan

4 September 2026 - 19:30 WIB

Trending di Ekonomi & Bisnis