worker (pexels.com/Burst). Sumber : IDN RESEARCH INTITUTE
JAKARTA (GLOBALSIAR) – Optimisme masyarakat Indonesia terhadap ketersediaan lapangan kerja menunjukkan tren penurunan dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini tercermin dari data Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK) yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI).
Pada Maret 2026, IKLK tercatat di angka 107,8, turun dari posisi 110,7 pada Februari 2026. Meskipun mengalami penurunan, indeks ini masih berada di zona optimistis (di atas 100). Tren penurunan berlanjut pada periode-periode berikutnya, di mana IKLK pada Mei 2026 menjadi 105, turun dari 108,8 pada April 2026. Kondisi ini turut menekan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), yang pada Maret 2026 turun ke level 122,9 dari posisi sebelumnya 125,2.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor, menyatakan bahwa penurunan keyakinan publik merupakan hal yang wajar di tengah berbagai tekanan ekonomi. Ia mengaitkan kondisi ini dengan dampak konflik geopolitik yang memicu lonjakan harga energi dan bahan baku impor, sehingga meningkatkan biaya produksi dan memaksa perusahaan untuk mengurangi jumlah pekerja atau melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK).
Tingkat keyakinan terhadap peluang kerja juga berbeda-beda jika dilihat dari latar belakang pendidikan dan kelompok usia. Berdasarkan data BI pada Juni 2026, lulusan sarjana masih menjadi kelompok yang paling optimistis dengan indeks 109,0, diikuti lulusan akademi atau diploma dengan indeks 101,2. Namun, kelompok pendidikan lainnya telah berada pada level pesimistis . Dari sisi usia, kelompok 20 hingga 40 tahun masih optimistis (indeks di atas 100), sedangkan kelompok usia di atas 41 tahun cenderung pesimistis.
Meskipun persepsi terhadap kondisi saat ini melemah, ekspektasi konsumen terhadap prospek ekonomi enam bulan mendatang masih terjaga. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) pada Juni 2026 berada di level 126,4, meskipun turun dari bulan sebelumnya . Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki harapan terhadap perbaikan kondisi ke depan, termasuk ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja yang tetap berada di zona optimistis.
Di sisi lain, analisis dari IDN Research Institute menunjukkan bahwa di tengah melemahnya optimisme terhadap lapangan kerja, terdapat peningkatan permintaan terhadap keterampilan tertentu, terutama di bidang kecerdasan buatan atau AI. Berdasarkan Artificial Intelligence Index Report 2025 dari Stanford HAI, konsentrasi talenta AI di Indonesia tercatat tumbuh 191% selama periode 2016 hingga 2024. Hal ini mengindikasikan adanya pergeseran jenis kompetensi yang dibutuhkan oleh industri, meskipun secara keseluruhan jumlah peluang kerja yang tersedia cenderung menurun.
[Red/Valda]
















