JAKARTA, GLOBALSIAR.COM (13/08/2026) – Kebiasaan anak-anak mengorek hidung lalu memakan lendir atau ingus, yang secara medis dikenal sebagai mukofagi, sering kali menimbulkan rasa khawatir dan jijik pada orang tua. Fenomena ini sebenarnya merupakan perilaku yang sangat umum terjadi pada masa kanak-kanak sebagai bentuk eksplorasi sensorik. Para ahli kesehatan menyatakan bahwa rasa ingin tahu yang tinggi terhadap tubuh sendiri sering kali mendorong anak untuk mencoba hal-hal yang dianggap tidak lazim oleh orang dewasa.
Dari sisi kesehatan, ingus sebagian besar mengandung air, protein, antibodi, dan garam, sehingga menelannya dalam jumlah kecil biasanya tidak menyebabkan gangguan medis yang serius. Namun, risiko yang perlu diwaspadai adalah kontaminasi bakteri atau virus yang berpindah dari tangan yang kotor ke dalam mulut atau hidung. Selain itu, kebiasaan mengorek hidung yang terlalu agresif dapat menyebabkan luka kecil pada selaput lendir yang memicu terjadinya infeksi atau mimisan berulang pada anak.
Penyebab anak melakukan kebiasaan ini bisa bervariasi, mulai dari sekadar rasa penasaran hingga adanya rasa tidak nyaman akibat kotoran yang menyumbat jalan napas. Pada beberapa kasus, tindakan memakan ingus juga bisa menjadi tanda bahwa anak sedang merasa bosan, cemas, atau stres. Penting bagi orang tua untuk mengidentifikasi situasi atau pemicu spesifik yang membuat anak melakukan kebiasaan tersebut agar langkah penanganan yang diambil bisa lebih tepat sasaran.
Alih-alih memarahi dengan keras, orang tua disarankan untuk memberikan edukasi mengenai kebersihan secara lembut dan konsisten. Menyediakan tisu di tempat yang mudah dijangkau serta mengajarkan cara mencuci tangan yang benar adalah langkah awal yang efektif untuk mengalihkan perilaku tersebut. Memberikan kesibukan pada tangan anak saat mereka mulai terlihat ingin mengorek hidung juga dapat membantu memutus siklus kebiasaan ini secara perlahan. Laporan edukasi kesehatan ini ditulis ulang oleh GlobalSiar.
















