Stabilitas Harga Masker: Pemerintah Larang Keras Praktik Spekulasi Siswa di Karo Diduga Alami Gangguan Ingatan Pasca Santap Makan Bergizi Gratis Kejaksaan Agung Periksa Jampidsus Febrie Adriansyah dalam Kapasitas Tersangka Ekonomi Iran Terpuruk Akibat Terhentinya Ekspor Minyak Mentah Waspada Hoax Investasi Mencatut Nama Purbaya Yudhi Sadewa Pemkab Bogor Siapkan Strategi Water Bombing Padamkan Kebakaran TPA Galuga

Teknologi & Sains

Alasan Mengapa Pesawat Dilarang Keras Menembus Abu Vulkanik Gunung Berapi

badge-check


					(Pexels/Pixabay) Perbesar

(Pexels/Pixabay)

JAKARTA, GLOBALSIAR.COM (08/09/2026) – Fenomena alam berupa erupsi gunung berapi selalu menjadi ancaman serius bagi dunia penerbangan karena material abu yang dilepaskan ke atmosfer memiliki karakteristik yang sangat merusak. Berbeda dengan awan mendung biasa yang terdiri dari tetesan air atau kristal es, abu vulkanik tersusun atas partikel batuan kecil, mineral, dan kaca vulkanik yang sangat tajam serta abrasif. Kehadiran material ini di jalur udara memaksa maskapai untuk membatalkan penerbangan demi menjamin keselamatan penumpang dan kru.

Bahaya utama yang paling ditakuti adalah kerusakan pada mesin jet pesawat yang bekerja pada suhu operasional sangat tinggi. Partikel silika dalam abu vulkanik memiliki titik leleh yang lebih rendah dibandingkan suhu di dalam ruang bakar mesin, sehingga material tersebut akan mencair saat terhisap. Cairan kaca ini kemudian membeku kembali dan menempel pada sudu-sudu turbin serta menyumbat aliran udara, yang secara instan dapat menyebabkan mesin kehilangan daya dorong (stall) atau bahkan mati total di tengah penerbangan.

Selain ancaman pada mesin, abu vulkanik juga mengganggu sistem sensor navigasi yang sangat krusial bagi pilot. Partikel padat tersebut dapat menyumbat tabung pitot yang berfungsi mengukur kecepatan udara dan instrumen ketinggian, sehingga data yang muncul di kokpit menjadi tidak akurat dan menyesatkan. Di saat yang sama, sifat abrasif dari abu ini akan menggores kaca depan pesawat hingga menjadi buram (sandblasting), yang mengakibatkan hilangnya visibilitas pilot secara total saat melakukan pendaratan darurat.

Komposisi kimia dari abu vulkanik yang seringkali mengandung gas sulfur juga berisiko menimbulkan korosi pada komponen logam pesawat serta kerusakan pada sistem kelistrikan. Mengingat besarnya risiko kegagalan sistemik yang bisa terjadi secara simultan, otoritas penerbangan global menetapkan prosedur tanpa kompromi untuk menghindari zona abu vulkanik. Informasi teknis mengenai standar keselamatan transportasi udara ini disusun kembali oleh GlobalSiar.

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Stabilitas Harga Masker: Pemerintah Larang Keras Praktik Spekulasi

8 September 2026 - 13:09 WIB

Siswa di Karo Diduga Alami Gangguan Ingatan Pasca Santap Makan Bergizi Gratis

8 September 2026 - 13:06 WIB

Kejaksaan Agung Periksa Jampidsus Febrie Adriansyah dalam Kapasitas Tersangka

8 September 2026 - 13:03 WIB

Ekonomi Iran Terpuruk Akibat Terhentinya Ekspor Minyak Mentah

8 September 2026 - 13:00 WIB

Waspada Hoax Investasi Mencatut Nama Purbaya Yudhi Sadewa

8 September 2026 - 10:38 WIB

Trending di Ekonomi & Bisnis