SLEMAN, GLOBALSIAR.COM (08/09/2026) – Insiden keracunan massal yang menimpa sedikitnya 70 siswa sekolah di wilayah Kabupaten Sleman memicu reaksi keras dari kalangan orang tua murid. Massa yang didominasi oleh ibu-ibu menggelar aksi protes dengan cara memukuli panci sebagai bentuk kekecewaan atas kondisi kesehatan anak-anak mereka setelah mengonsumsi paket makanan di sekolah. Kejadian ini menjadi sorotan tajam setelah puluhan anak harus dilarikan ke fasilitas kesehatan akibat gejala keracunan yang muncul secara bersamaan.
Para pengunjuk rasa menyampaikan aspirasi mereka dengan menuntut transparansi serta pengawasan ketat terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah diuji cobakan. Aksi memukul alat dapur tersebut merupakan simbol protes terhadap penyediaan makanan yang dinilai tidak higienis dan membahayakan keselamatan jiwa para pelajar di lingkungan pendidikan. Mereka mendesak pemerintah daerah segera melakukan audit menyeluruh terhadap vendor penyedia katering yang bertanggung jawab atas distribusi makanan tersebut.
Pihak berwenang dari Dinas Kesehatan setempat dilaporkan telah mengambil sampel sisa makanan untuk dilakukan uji laboratorium guna memastikan jenis kontaminan yang menyebabkan gangguan kesehatan massal ini. Sementara itu, sekolah-sekolah yang terdampak untuk sementara waktu menghentikan layanan pemberian makanan tambahan hingga hasil investigasi resmi keluar. Pihak kepolisian juga mulai melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi guna mendalami adanya unsur kelalaian dalam kasus ini.
Pemerintah Kabupaten Sleman menjanjikan evaluasi total terhadap standar operasional prosedur distribusi pangan di sekolah agar peristiwa serupa tidak terulang kembali di masa depan. Masyarakat berharap insiden ini menjadi titik balik bagi perbaikan sistem ketahanan pangan sekolah yang lebih aman, berkualitas, dan terukur bagi seluruh siswa. Laporan ini disusun kembali dan diolah oleh GlobalSiar untuk memastikan penyampaian informasi yang akurat kepada publik.















