BANJARBARU, GLOBALSIAR.COM (8 SEPTEMBER 2026) – Pemerintah secara resmi meluncurkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Kalimantan Selatan sebagai langkah strategis menanggulangi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Operasi intensif ini direncanakan berlangsung selama tiga hari ke depan guna memicu turunnya hujan buatan di titik-titik yang dinilai rawan kebakaran. Langkah percepatan ini diambil menyusul adanya peningkatan suhu udara serta penurunan intensitas curah hujan yang mulai mengkhawatirkan di sejumlah kabupaten.
Pelaksanaan modifikasi cuaca tersebut melibatkan kolaborasi erat antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BMKG serta instansi terkait lainnya. Armada pesawat khusus telah disiagakan untuk melakukan penyemaian garam (NaCl) pada awan-awan potensial yang terpantau di atmosfer Kalimantan Selatan. Fokus utama dari penyemaian ini adalah untuk menjaga tingkat kelembapan tanah dan memastikan kanal-kanal air di area lahan gambut tetap terisi, sehingga meminimalkan potensi munculnya titik api secara alami.
Berdasarkan pantauan sensor satelit terbaru, terjadi tren peningkatan jumlah titik panas (hotspots) yang cukup signifikan di beberapa wilayah rawan seperti Kabupaten Banjar dan Tanah Laut. Kondisi lahan yang mulai mengering menjadikannya sangat rentan terhadap kobaran api, baik yang dipicu oleh faktor alam maupun aktivitas manusia di sekitar hutan. Operasi TMC diharapkan mampu memberikan dampak pendinginan suhu permukaan tanah serta membasahi vegetasi yang mudah terbakar sebelum kekeringan memasuki fase puncak.
Para petugas di lapangan tetap disiagakan untuk melakukan patroli darat sembari memantau efektivitas dari hujan buatan yang dihasilkan melalui operasi udara ini. Koordinasi lintas sektoral terus diperkuat demi memastikan respons cepat jika ditemukan indikasi kebakaran berskala kecil agar tidak meluas menjadi bencana kabut asap yang merugikan masyarakat. Artikel ini disusun kembali oleh GlobalSiar.
Evaluasi akan terus dilakukan setiap harinya untuk melihat perkembangan cuaca dan cakupan hujan yang turun di wilayah target. Jika kondisi belum menunjukkan pemulihan kelembapan yang memadai, otoritas berwenang kemungkinan akan mempertimbangkan perpanjangan masa operasi atau penambahan armada penyemaian. Sinergi antara teknologi dan kesiapsiagaan personel di lapangan menjadi kunci utama dalam menjaga ekosistem hutan Kalimantan Selatan tetap aman dari ancaman api. Artikel ini ditulis ulang oleh GlobalSiar.















